Random Romance

Published by

on

  

                           

                          

                           

Random

Romance

Sanksi Pelanggaran

Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014

Tentang Hak Cipta

  1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

  2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

  3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

  4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

Random

Romance

Prasetyo Peuru Henry Putra

Random

Romance

Penulis: Prasetyo Peuru Henry Putra

Penyunting: Prasetyo Peuru Henry Putra

Desain Cover: Prasetyo Peuru Henry Putra

Desain Layout: Prasetyo Peuru Henry Putra

Penata Letak: Prasetyo Peuru Henry Putra

Cetakan pertama, November 2018

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.

Dilarang mengutip, memperbanyak dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

Penerbit: Peuru.com


Kata Pengantar

Haleluya, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan karunia-Nya, saya bisa diberi kesempatan untuk membuat hasil karya ini, sehingga dapat berbagi dengan para pembaca.

Pada kesempatan ini penulis ingin berterima kasih kepada setiap orang yang membantu mewujudkan hasil karya ini. Terutama kepada kedua orangtua, kakak dan adik saya serta keluarga besar saya.

Terakhir, terima kasih untuk para pembaca yang tergerak atau bersedia membeli dan membaca Kumpulan Cerpen ini. Tanpa para pembaca sekalian, Kumpulan Cerpen ini tidak akan ada artinya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak untuk semuanya. Semoga kita selalu berbahagia dan diberkati oleh Tuhan. Amin.

Luwuk, 3 November 2018

Prasetyo Peuru Henry Putra

Daftar Isi

|

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Cerpen I Jadi Pacarku 1

Cerpen II Sandiwara Cinta 8

Cerpen III Pura-Pura Jadi Cinta 14

Cerpen IV Ciuman Pertama 16

Cerpen V Cinta di Kedai Amor 19

Cerpen VI Sido dan Miya 23

Cerpen VII My Orange Love 30

Cerpen VIII Sekilas 33

Cerpen IX Insiden Tak Terduga 35

Cerpen X Malam Hari di Lapangan Basket 38

Cerpen XI Bebed 40

Cerpen XII Cinta yang Terpendam 42

Cerpen XIII Jatuh Cinta di Sekolah Baru 46

Cerpen XIV Ditolak 48

Cerpen XV Kencan Pertama 51

Cerpen XVI Momen di Orientasi Akademik 52

Cerpen XVII Will You Be My Lover 55

Cerpen XVIII Wish Come True 56

Profil Penulis 85

|

I

Jadi Pacarku

Berawal dari perkenalan singkat, sekedar menyapa buat nambah temen di hari ke dua MOP di SMK dulu dan akhirnya semakin dekat. Gue sebut saja Ferris dan sahabat gue Vena. Kami bersahabat lamanya bentar lagi udah mau setengah tahunan, kami sering jalan bersama mengikuti ekskul yang sama. Setiap hari di sekolah nyaris selalu bersama, hanya karena beda kelas aja kami jadi gak bisa terus bersama. Karena kebersamaan kami, kami jadi diledekin temen-temen sebagai sepasang kekasih. Aslinya gue seneng juga digituin, karena jujur gue punya rasa sama Vena. Gue gak tau apakah Vena tau itu atau gak, tapi yang jelas dia sulit sekali ditebak. Gue pikir dia jago menyembunyikan perasaannya atau hanya gue yang kegeeran dan dia hanya anggep gue sebagai sahabatnya gak lebih.

Minggu kemarin kami baru selesai mengikuti UAS, nilai gue tentu aja bagus. Oh iya kami berdua masuk di jurusan yang sama, hanya beda kelas. Gue Multimedia 1 dan Vena Multimedia 2, peletakan murid. Caelah bahasanya peletakan, dikira bangunan. Peletakan siswa-siswi pokoknya MM 1 bukan berarti yang pinter-pinter MM 2 yang oon-oon. Gak begitu tapi emang muridnya di random. Oh iya untuk nilai Vena gue gak tau, karena gue gak sempet nanya. Biarlah yang penting kami udah selesai ujian dan gak ada yang remed di antara gue dan Vena.

Beberapa hari lagi Natal dan Tahun baru, intinya sekolah bakal libur dan itu berarti gue gak bisa ketemuan sama Vena, karena dia ada acara liburan sendiri sama keluarganya. Walau begitu kita tetep kontek-kontekan, yoi sahabat. Sahabat yang gue berharapnya akhirnya jadi Cinta. Hahaha… ssstt.. Jangan ketawa gede-gede. Jangan sampe Vena tau. Gue belum siap. Bah payah beud gue ya. Kayaknya kurang gentle dan menunda-nunda keadaan, pikirnya sih nunggu waktu yang tepat dulu. Tapi kalo yang disuka digebet orang duluan, entar adanya mewek lagi. Hadeuhh… jangan sampe – jangan sampe.

Skip

Akhirnya hari ini mulai sekolah lagi. Yeah gue bisa ketemu Vena lagi. Biarlah liburan yang mengasyikan telah selesai yang penting sekarang keasyikan yang baru akan datang.

Ferris, “Siang Vena. Gimana liburannya kemaren?” Ucapku basa-basi, sekalian kepo juga.

Vena, “Seru Fer, gue pulang kampung di Malang ketemu sodara-sodara yang laen, trus ketemu cowok cakep lagi. Yeah… Hahaha…” Seru Vena.

“Yaelah ngomongin cowok cakep lagi. Belum tentu lebih cakep dari gue. Hiks…” Grutu Ferris dalam hati.

Feris, “Kayaknya seneng banget lu ngomongin tuh cowok. Palingan juga masih gantengan gua. Hahaha…” ucap Ferris.

Vena, “Lu ganteng sih Ferr tapi dia tuh lebih cute. Dan dia tukeran nomor hape ama gue. Jadinya kita sampe kemarin terus kontek-kontekan deh, lewat sms lewat nelpon. Dan rasanya tuh… Menyenangkan…….”

Ferris, “Lebay banget lu.” Ucap Ferris bete.

Vena, “Kok lu gitu sih Fer bukannya dukung sahabat lu. Lu malah kayaknya gak seneng gitu. Kok lu gitu sih ama gue? Ok fine.”

Ferris, “Iya deh gue dukung. Biar lu seneng.” Ucap Ferris terpaksa.

Vena, “Nah, gitu dong. Ini baru sahabat gue yang baik.”

Ferris, “Yaudah gue ke kelas dulu ya, udah mau bel masuk.” Ucap Ferris memelas.

Vena, “Oke.” Setuju Vena. Walau saat ini Vena melihat Ferris tampak tak bersemangat, berbeda dengan awal bertemu tadi.

Sekarang hati Ferris lagi gunda gulana, dia gak mau orang yang dia suka keduluan digaet ama orang lain. Tapi Ferris juga belum berani. Setidaknya sekarang dipikirannya gimana caranya dia bisa ngungkapin perasaannya ke sih Vena, orang yang dia cintai.

Skip

Vena tampak sedang bercakap-cakap dengan temannya yang lain di dalam kelas di jam istirahat. Sedang Ferris lagi galau sendirian di kelasnya, temannya ngajak keluar dan yang lain ngajak ngobrol dia malah asik galau-galauan sendiri. Lol. Vena lalu datang ke kelas Ferris.

Vena, “Fer jajan yuk. Laper nih. Ayuk bareng.”

Ferris, “Yaudah deh yuk.”

Temen-temen Ferris yang laen, “Wuuuhh… giliran diajak Vena aja baru mau.”

Ferris, “Yeee… biarin. Sorry ye, gue tadi lagi bete. Sekarang gak lagi. Hahaha.”

Vena hanya bisa tersenyum melihat kelakuan sahabatnya.

Ferris dan Vena pun jajan di kantin sekolah.

Skip

Dua bulan kemudian,

Vena, “Ferr, tadi gue ditembak sama Ryan orang Malang itu di sms. Gue harus gimana dong? Gue harus bales apa? Kasih saran dong.” Ucap Vena ditelpon malam hari.

Ferris, “Hah, dia nembak lu. Lu minta saran gue bales apaan?”

Vena, “Iya, gue harus gimana nih, bales apa?” Panik.

Ferris, “Mending jangan lu bales dulu deh.”

Vena, “Loh kenapa?” Bingung.

Ferris, “Ya mending lu pikirin baik-baik dulu aja deh.”

Vena, “Gue udah mikirin bener-bener dari tadi keleus Ferr.”

Ferris, “Besok aja deh balesnya. Lu ketemu gue dulu, sekalian gue liat smsnya.”

Vena, “Gak mau. Gue maunya sekarang. Atau gue bales iya aja ya? Tadi dia nelpon gue tapi gak gue angkat.”

Ferris, “Ven bales nggak.”

Vena, “Lah kenapa?” Tanya Vena bingung.

Ferris, “Karena jujur, sebenarnya gue sayang banget sama lo. Dan gue udah nyimpen perasaan ini lama. Gue gak mau lu jadian ama dia karena gue mau lu jadi pacar gue. Vena, lu mau nggak jadi pacar gue?”

Vena, “What? Maaf Ferr gue gak bisa jawab sekarang, gue bingung. Gue jadi tambah bingung tau gak. Sorry ya.” Telpon pun langsung dimatikan.

Ferris, “Hallo Ven, hallo… hallo…”

Ferris, ” Yah dimatiin. Aduh apa yang udah gue ucapin tadi? Tapi kalo gue gak ngomong kayak gitu bisa-bisa dia beneran jadian ama tuh cowok yang namanya Ryan. Oh Tuhan semoga yang gue lakuin ini udah benar.”

Ferris, “Gimana nih? Apa gue coba nelpon Vena lagi aja ya? Coba deh.” Ucap Ferris dalam hati.

Ferris pun menelepon Vena. Tuut tuut tuuut… (Bayangin bunyi nelpon kayak gimana, jangan yang dipikirin malah kentut ya ‘Author’).

“Yahh…. gak diangkat.”

Udah dicoba berkali-kali Vena gak mau mengangkat telponnya.

Disisi lain Vena jadi sangat bingung dengan pernyataan sahabatnya Ferris. Entah perasaannya harus senang atau sedih. Yang jelas Vena saat ini begitu bingung.

Vena, “Kenapa sih Ferr lu harus bilang sayang ama gue. Padahal gue udah nyaman sahabatan ama lu dan gara-gara lu juga, gue jadi ngomong ke Ryan kalo gue gak mau jadi pacarnya dan tetap temenan aja. Lu bikin gue jadi galau tau gak. Gue sebenarnya gak mau persahabatan kita berakhir, entah itu alasannya kalo misalkan kita jadian. Karena jujur gue udah nyaman dengan keadaan ini. Tapi sekarang lu malah ngomong mau gak gue jadi pacar lu. Gue harus jawab apa? Gue takut kalo gue jawab gak, lu kecewa dan gak mau sahabatan lagi ama gue disisi lain kalo gue bilang iya gue mau jadi pacar lu, trus kita pacaran dan suatu saat bermasalah dan kita gak bisa kayak dulu lagi. Karena gue udah pernah ngalamin hal itu dulu pas smp dan gue gak mau itu terulang lagi. Entahlah gue gak yakin dengan perasaan gue saat ini. Lu emang baik, care, bisa bikin gue ketawa, tempat gue bisa nyeritain banyak hal dan tempat gue bisa merasakan kenyamanan bila berada di sisi lo. Tapi itu cukup sebagai sahabat gak lebih. Gue yakin.”

Dalam kegundahannya Vena pun terlelap.

Besoknya di sekolah Ferris mencoba menemui Vena, tapi Vena malah meminta Ferris untuk meninggalkannya sendiri.

Vena, “Please Ferr beri gue waktu sendiri dulu. Jangan ganggu gue sekarang. Gue gak mau denger satu katapun dari mulut lu.”

Ferris, “Tapi Ven, gue ….”

Vena, “Please Ferr, tolong ngertiin gue.”

Vena pun pergi meninggalkan Vena. Sedang teman-teman mereka yang lain mendatangi Ferris.

“Lu berdua kenapa? Kok gak biasa-biasanya kayak gini. Ada masalah apaan Ferr.”

Ferris, “Maaf gue gak bisa cerita sob. Ini masalah gue ama Vena.”

“Ceritalah kali aja kita-kita bisa bantu.” Teman kelasan Vena.

Ferris, “Gue gak bisa kasih tau sekarang. Nanti ajalah ya. Sorry ya.”

“Yoi, semoga masalah lu ama Vena cepet beres ya dan agar lu berdua akur lagi. Oke” semangat dari teman-teman kelasan Vena.

“Thank you sob. Gue balik ke kelas dulu.”

Skip

Sudah 3 hari Vena dan Ferris tidak jalan bersama, Vena juga tidak bisa dihubungi. Besok hari sabtu, lusa Minggu.

Ferris, “Sebelum minggu depan gue harus nyelesain masalah gue ama Vena. Gue harus ngeyakinin dia. Setidaknya kalo dia gak mau jadi pacar gue, dia harus tetep jadi sahabat gue. Gue gak mau putus hubungan ama lu Vena. Maafin akan perasaan gue ama lu. Sial kenapa gue harus memiliki perasaan ini ama lu? Tuhan tolong Ferris. Kalau Vena emang cinta sejati Ferris jadikanlah dia kekasih Ferris. Tapi kalau Vena bukan jodoh Ferris, biarlah Vena tetep jadi sahabat baik Ferris. Amin.”

Tiba-tiba handphone Ferris berdering, “Let it go… Let it go….”

Ferris, “Hallo Vena!” 🙂

Vena, “Ferris gue mau ngomong ama lu. Lu bisa gak dateng di taman deket rumah gue?”

Ferris, “Bisa.”

Skip

Vena menunggu Ferris di taman malam itu. Sekitar 10 menit menunggu dan Ferris pun tiba.

Skip

Vena, “Fer gue mau jawab pertanyaan lu yang beberapa hari lalu. Apakah gue mau jadi pacar lu atau gak. Pertama, gue pengen cerita. Cerita yang belum gue ceritain ke lu. Dulu pas smp gue punya sahabat deket dan akhirnya kita pacaran. Tapi karena suatu masalah kita akhirnya putus dan karena hal tersebut gue akhirnya putus hubungan ama dia. Kita jadi jauh-jauhan dan gak deket lagi seperti dahulu. Gue mau ngomong ini karena gue gak mau hubungan kita kayak pengalaman gue dulu. Jujur gue udah nyaman ama persahabatan kita, tapi gue juga gak memungkiri bahwa ternyata gue punya rasa ama lu. Maafin gue karena beberapa hari ini gue ngejauhin lu. Gue cuma butuh waktu sendiri untuk ngeyakinin perasaan gue sendiri. Dan setelah gue pikir-pikir, sebelum gue jawab pertanyaan lu, gue butuh jawaban dari lu buat ngeyakinin gue bahwa hubungan kita gak bakal putus entah itu sebagai sepasang kekasih atau sebagai sahabat.”

Cinta sebenarnya ku mencintaimu

Tapi ku meragu

Ku menutup ruang itu karena pengalamanku dahulu

Aku ingin hubungan kita takkan berakhir

Sebenarnya ku sudah nyaman dengan persahabatan kita

Tapi bila kau meminta lebih aku tak tau

Jujur aku juga mencintaimu

Tapi karena hal ini membuatku tak pasti

Karena ku takut kan terjadi lagi

Masalah yang membuat kita berpisah selamanya

Yakinkan aku bahwa takkan terjadi seperti itu

Yakinkan aku kau kan tetap denganku apapun yang terjadi

Maka ku kan menerima cintamu

Karena aku juga punya rasa yang sama

Yakinkan aku Cinta.

Yakinkan Aku Cinta

Ferris pun menjawab, “Vena terima kasih lu udah mau cerita hal itu. Dan makasih karena udah punya rasa yang sama ama gue. Dengan hal itu udah cukup bagi gue untuk menjadikan lu kekasih gue, gue janji gue gak bakal melakukan hal yang sama seperti mantan sahabat lu dulu. Dan bila kita jadian, gue bakal mastiin hubungan kita bakal kayak sahabatan, pacar sekaligus sahabat. Oleh karena itu maukah kamu jadi pacar gue?” Ucap Ferris sambil lalu berlutut di depan Vena.

Vena, “Ya, gue mau.”

Akhirnya Ferris dan Vena pun menjadi sepasang kekasih dan mereka tetap bersahabat sampai saat ini sebagai sepasang kekasih. Hahahaha…. XD

***

II

Sandiwara Cinta

Di sekolah…

Hari ini aku Nio menghampirinya, pikirku dengan menemuinya aku akan merasa lebih lega. Namun yang terjadi sebaliknya, dia malah memarahiku meneriakiku tanpa sebab. Apakah dia sedang datang bulan pikirku, makanya dia begini. Meski hal tersebut tak patut dilakukan oleh seorang gadis berjilbab sepertinya. Ririn itulah namanya. Dia merupakan sahabat baikku, meski baru satu tahun saling mengenal sejak hari kedua masuk sekolah, namun aku cocok dengannya, makanya kami pun bersahabat. Akan tetapi akhir-akhir ini dia mulai berubah, dia tak memberiku penjelasan sedikitpun. Dia mulai suka marah-marah sendiri, kemudian menangis dan kembali marah-marah. Aku yang melihat dia seperti itu, pada saat ini segera mencoba menenangkannya.

“Ririn tenang, sabar… Lu kenapa sih Rin? Gue baru datang, lu marahin gue. Lu juga teriakin gue sebegitu kasarnya. Emang gue salah apa ama lu? Kenapa ama lu Rin. Akhir-akhir ini lu berubah tau gak. Please, cerita kalo lu ada masalah. Barangkali gue bisa bantu. Bagaimanapun kan gue ini sahabat lo!”

“Diem lo. Gue lagi gak mau liat muka lu di sini. Gue gak mau diganggu siapapun. Biarin gue sendiri!”

“Oke kalo itu mau lu. Asal lo tau, gue kecewa ama lu.”

Aku pun segera pergi meninggalkannya sendiri di ruang musik sekolah. Niat menghilangkan kepenatan sehabis ujian di kelas, pikiranku malah ditambah dibuat kacau oleh sikap Ririn yang tak jelas sedang memiliki masalah apa. Aku jadi terus memikirkannya, padahal dia adalah anak yang ceriah dan selalu membuat orang disekitarnya merasa nyaman. Namun entah kenapa sekarang dia seperti selalu menutup diri dan menjadi begitu introvert. Dia mulai menjauhi teman-teman dan ketika istirahat, dia pergi ke ruang musik di belakang sekolah sendirian dan melarang yang lainnya untuk datang ke sana. Dia malah menyuruh yang lainnya pergi ke ruang musik yang satu lagi, bahkan aku sendiri sahabat dekatnya juga ikut-ikutan kena semprot. Semua teman-teman kecewa dengan perubahannya termasuk aku. Akan tetapi aku tetap mencoba meminta yang lain untuk memberikannya waktu sendiri, mungkin dengan begitu dia bisa merenungkan masalahnya dengan lebih tenang.

Ririn tak pernah tau meskipun kami bersahabat namun aku sebenarnya memendam rasa padanya. Dia takkan pernah tau bila aku tak mengungkapkannya, karena aku selalu bersikap seolah biasa saja sebagai seorang sahabat.

#Poem#

Sahabatku yang manis,

Kau takkan pernah tau ini

Perasaan yang ku pendam padamu

Perasaan yang sudah lama ku simpan

Sahabatku yang manis,

Hari ini ku kembali menulis tentang perasaanku

Akankah kau menyadarinya

Bila ku berikan tanda-tanda padamu

Tanda-tanda perasaan yang ada di hatiku

Tentang rasa ini,

Sebenarnya aku menyukaimu

Sebenarnya aku menyayangimu

Aku tahu aku mencintaimu

Namun kau takkan pernah tau itu

Bila ku tak mengungkapkannya

Karena aku selalu bersikap seolah biasa saja

Ingin ku mengatakannya

Ingin ku menyatakannya

Ingin ku mengungkapkannya

Namun ku belum siap

Ku masih ragu

Ku masih takut

Takut akan segalanya

Takut akan perbedaan kita

Takut apabila kau tau

Dan kau malah menjauh dariku

Sahabatku yang manis,

Haruskah ku jujur padamu

Jujur tentang semua perasaanku padamu

Bahwa aku mencintaimu

Inilah cintaku, 

Cinta Seorang Sahabat..

Yang kini berharap lebih

Ku berharap perasaanku kan sampai kepadamu

Menyentuh hatimu,

Membuka pikiranmu

Menyadarkan dirimu tentang aku

Bahwa aku mencintaimu

Inilah cintaku, Cinta Seorang Sahabat

####

Meskipun kami terlahir dari kepercayaan yang berbeda aku tak peduli, meski ku tau dari Pendetaku, terang dan gelap tak bisa dipersatukan. Namun bagiku terhadap dirinya adalah; cinta dapat mempersatukan segalanya dan itu berarti aku bisa menjadikannya sebagai kekasihku. Karena perasaanku ini sangatlah tulus dan jujur. Aku mau memperjuangkannya, meski ku sendiri belum berani mengungkapkannya.

Namun kini dia sedang dalam masalah. Dan dia mulai menjauhiku. Tawanya, Sinarnya mulai meredup. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan untuk menolongnya, biar sinarnya kembali merekah indah dan kami kembali dekat lagi seperti sebelumnya. Aku mengerti akan perasaanku dan karena hal ini aku akan mencoba membantunya, aku harus kembali menemuinya.

“Ririn, lu lagi ngapain, brenti!” Nio kaget melihat Ririn sedang mencoba membaret urat nadinya dengan silet yang mungkin dibawanya dari rumah dan disimpan di balik sakunya.

“Gue mau mati aja. Gue udah gak layak hidup di dunia ini, gue udah gak suci lagi. Gue udah gak perawan, gue udah diperkosa.” Berteriak sambil menangis dan memegang silet ditangannya.

Nio tersentak mendengarnya, orang yang disayanginya kegadisannya telah direnggut oleh orang lain. Bagaimana dengan cintanya, apakah Nio bisa menerima dan tetap mencintai Ririn bila kejadiannya seperti ini?

“Please jangan Ririn. Gue gak perduli walaupun lu udah diperkosa dan lu gak perawan lagi, gue mau lu tau satu hal gue sayang banget ama lu. Dan gue gak mau lu berbuat nekat seperti ini. Please lepas silet itu Ririn. Gue sayang ama lu.”

Ririn perlahan menjauhkan siletnya dari tangannya, meski dia masih tetap terseduh-seduh dalam tangisnya.

“Rin gue mohon…”

Ririn menatap mata Nio melihat keseriusannya, seakan gak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Nio sebelumnya.

Ririn pun melepas siletnya.

“Lu beneran sayang ama gue? lu mau jadi pacar gue?”

“Iya gue sayang banget ama lu. Gue mau jadi pacar lu.”

“Meski lu tau gue udah kayak gini?”

“Gue gak perduli, karena cinta gue tulus buat lo! Jadi please, jangan berbuat bodoh lagi. Gue janji gue bakal jaga lo dengan seg’nap hati gue, gue juga bakal berusaha berikan yang terbaik buat lu, apapun asalkan kita bisa tetap bersama. Apa itu masih kurang? Jadi apa lu punya persaan cinta yang sama kea gue? Jika iya, lupakan semua yang udah menimpa lu dan jadilah kekasih sejati gue! Do you wanna be my lover?”

Ririn meneteskan air mata kebahagiaannya mendengar semua kata demi kata dari mulut Nio. Dan dengan mantap Ririn pun menggerakan bibir mungilnya. Terdengar suara pelan nan manis, namun mantap.

“Yes, I do. … Please be mine. :’) I love you Nio..”

“I love you too Ririn :’)”

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai dari kawan-kawan Nio dan Ririn.

“Ciecie… Selamat ya, dah jadian ya. Bisa kali PJ-nya.”

Nio kaget, “Loh ada apaan ini? Kok lu-lu pada ada di sini?”

Ternyata ini sudah direncanakan, Ririn bohongan diperkosa dan masih perawan. Semua ini dilakukan agar Nio mau menyatakan perasaannya.

Sebenarnya kejadiannya begini, sekitar tiga bulan yang lalu Ririn menemukan buku catatan pribadi Nio di dalam tasnya saat mau meminjam buku untuk mencontek. Kemudian Ririn membacanya bersama teman-teman yang lain di saat jam istirahat ketika Nio sedang pergi menemui Wali Kelas di ruang Guru, karena Nio adalah Ketua Kelas di kelas mereka yang sekarang. Di buku tersebut, terdapat segala macam tulisan Nio khususnya tentang perasaan cinta Nio yang terpendam kepada seseorang. Dan isi tulisan yang paling mendominasi merupakan berbagai jenis puisi-puisi Nio dan beberapa lagu yang diciptakannya, namun belum pernah di perdengarkannya kepada seorang temanpun di kelasnya. Termasuk sahabat dekatnya sendiri, Ririn. Melewati pertengahan buku catatan rahasia Nio tersebut, Ririn bersama yang lainnya akhirnya baru tau dan menyadari kalau ternyata orang yang disukain Nio tersebut tidak lain tidak bukan adalah sahabat sendiri si Ririn. Wajah Ririn kemudian tampak memerah seketika. Ririn yang ternyata juga menyukai Nio entah sejak kapan, kemudian menyusun rencana bersama yang lainnya agar Nio mau mengakui perasaannya cintanya kepada Ririn. Dan akhirnya terciptalah rencana Ririn tersebut, dimulai dari dirinya mencoba bersikap seolah menjauh dari yang lainnya dan kemudian berakhir seperti kejadian barusan. Awalnya rencana mereka memang tak berhasil dan sudah beberapa kali mencoba berbagai metode dan cara ampuh lainnya, tetap saja gagal. Sampai akhirnya cara terakhir pun berhasil. Dan kini Nio dan Ririn pun resmi berpacaran.

Kini hampir tiap kali saat jam istirahat di kelas, selalu terdengar musik dan nyanyian romantis dari seseorang untuk kekasih hatinya. Sang wanita yang mendengarkan tampak selalu begitu terhibur dan selalu tersipu malu dengan lirik gombalnya sang pacar.

Hubungan mereka memang tak selalu berjalan mulus dan tampak begitu indah. Namun pada akhirnya cinta yang telah mempersatukan mereka membuktikan bahwa ‘Cinta itu kuat bagaikan maut’ dimana mereka hidup bahagia meski memiliki perbedaa iman.

Nio dan Ririn, dari sahabat jadi cinta, dari cinta jadi dua sejoli. 😀

Dan syukurlah cinta mereka berakhir bahagia.

***

III

Pura-Pura Jadi Cinta

Awalnya Bian dan Mita sangat dekat dan Kimi dan Reza juga sama. Bian menyukai Mita, sedang Kimi menyukai Reza. Namun ternyata perasaan Reza dan Mita tidak lebih kepada Bian dan Kimi. Suatu ketika Reza dan Mita bertemu dan berkenalan, beberapa hari berjalan mereka pun merasa cocok satu sama lain dan akhirnya mulai menjalin hubungan. Sayangnya Bian dan Kimi tidak senang dengan hubungan mereka dan kemudian mereka berkomplot untuk memisahkan Reza dan Mita.

Bian dan Kimi mencoba berbagai cara memisahkan Reza dan Mita, namun hasilnya selalu gagal. Semakin lama mereka mencoba memisahkan yang terjadi malah sebaliknya, Reza dan Mita malah semakin lengket. Sampai suatu ketika Kimi memberikan usul gila kepada Bian. Yaitu, berpura-pura dekat seperti sepasang kekasih. Awalnya Bian menolak, tapi dengan sigap Kimi menjelaskan bahwa ini agar Reza dan Mita cemburu kepada mereka berdua. Toh, ini hanyalah akting untuk merebut hati pujaan hati mereka. “Ketika mereka cemburu dan mulai menyadari keberadaan kita(Bian dan Kimi), maka disaat itulah kita mendekati mereka kembali dan menyatakan cinta.” Ucap Kimi. Ide ini memang terdengar gila, tapi tidak ada salahnya dicoba pikir Bian. Toh, selama ini mereka telah mencoba berusaha dengan berbagai cara memisahkan Reza dan Mita dan hasilnya selalu gagal. Akhirnya Bian pun menyetujui usulan dari Kimi.

Di hari pertama, Reza dan Mita sempat kaget melihat kemesraan Bian dan Kimi. Yes, satu langkah sudah berhasil pikir Bian dan Kimi. Hari berikutnya mereka pun terus jalan bersama dengan mesra di hadapan Reza dan Mita. Hal tersebut terus mereka lakukan dari hari ke hari. Tanpa disadari benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara Bian dan Kimi, namun mereka mengacuhkannya. Tujuan awal mereka hanya satu, memisahkan Reza dan Mita kemudian jadian dengan pujaan hati mereka dan bahagia selamanya dengan sang pujaan hati. Namun kedekatan dan kemesraan Bian dan Kimi mulai memudarkan motivasi awal mereka. Bian dan Kimi mulai jatuh hati satu sama lain. Mereka berakting mesra, namun kenyataannya itu adalah hal yang sebenarnya dan bukanlah kepura-puraan. Sampai satu saat Reza menyadari bahwa dia menyukai Kimi. Sedang Mita menyukai Bian. Reza dan Mita merasa telah kehilangan sosok yang membuat hidup mereka lebih cerah. Dan apa yang terjadi, ketika Bian mendengar pernyataan suka Mita lewat telpon. Dia bersorak penuh kemenangan dan mengatakannya kepada Kimi. Kimi yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Bian, kaget namun mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya dan memberikan ucapan selamat.

Reza menyatakan cintanya kepada Kimi. Namun Kimi menolak dan mengatakan bahwa perasaan cintanya pada Reza sudah tidak ada lagi, itu hanyalah perasaannya di masa lalu. Di waktu lain Bian sedang berbincang dengan Mita dan Mita menunggu jawaban keputusan dari Bian. Sesaat ketika Bian ingin menjawab pernyataan cinta Mita. Bian terdiam mengingat masa-masa indah bersama Kimi. Tiba-tiba Handphone Bian berbunyi, ternyata Line dari Kimi. Bian pun membuka Linenya dan mengetahui kalau Kimi menolak Reza dan Kimi menuliskan kalimat “GUE CINTA SAMA LO”. Bian yang juga punya rasa sama Kimi, terdiam dan akhirnya berkata, “Maaf, gue gak bisa terima pernyataan cinta lo. Karena gue udah punya orang yang gue cintai, namanya Kimi”. Bian pun pergi dari tempat itu dan membalas line Kimi. ‘Ketemu sama gue di Café Lamoe besok jam 4 sore’.

Saat di café Lamoe, Bian sudah membooking café tersebut dan mendekor ruangannya dengan tema yang begitu romantis. Saat Kimi masuk, Bian berkata, “gue gak mau jawab perasaan gue ke lo lewat Line. Gak romantis menurut gue. Awalnya kita emang pura-pura dan semua ini karena ide lo yang gila. Namun gue bersyukur, lewat ide gila lu itu kini gue bisa menemukan siapa cinta sejati gue. Yaitu lo! Do you wanna be my girlfriend?”. Lagu Petra Sihombing yang berjudul ‘Mine’ pun dinyalakan. Mereka pun jadian dan bahagia selamanya.

***

IV

Ciuman Pertama

Anna gadis idola di sekolahku, sudah cantik, pintar, ketua OSIS pula. Banyak cowok di sekolahku berupaya mencuri hatinya, tapi tanpa alasan yang jelas semua cowok yang menembaknya ditolak mentah-mentah. Meski begitu dia tetap menjadi idola semuanya, bahkan para gadis dan guru-guru mengaguminya. Lalu aku, apa yang jadi kelebihanku? Aku cuman kutu buku yang suka menyendiri, walau aku juga sebenarnya mengaguminya. Namun karena aku tampak culun dan malas bergaya, aku segera memupuk jauh-jauh keinginanku untuk mencoba mendekatinya. Walau aku kutu buku dan sebenarnya aku juga jenius,  namun nilai ujianku selalu jelek, karena Sindrom Panik Ujian yang kuderita. Ceritanya aku selalu panik dan tak bisa berpikir serius saat ujian, kepalaku jadi pusing dan mual ketika ujian berlangsung. Alhasil meski aku memiliki IQ 165, ujianku selalu jelek. Orang yang tau aku jenius hanya keluargaku dan beberapa guru di sekolah, karena orangtua ku menjelaskan ke wali kelasku dan kepala sekolah tentang sindrom yang kuderita. Namun yang unik, berbeda dengan ujian, aku Tomi, sangat suka dengan quiz. Sampai suatu hari aku ditunjuk mengikuti quiz bersama Anna dan Lena. Lena merupakan ketua kelas di kelasku dan saingan Anna yang selalu mendapat tempat ke-dua dikala ujian, ya dia selalu mendapat tempat ke-dua dan menganggap Anna sebagai saingan terberatnya. Namun kala itu, banyak yang protes mengapa aku bisa dipilih mengikuti perlombaan quiz, karena mereka tau kalau nilai ujianku selalu jelek. Ya, aku si mengerti alasan mereka memprotes hal tersebut. Namun aku takkan mengalah, karena mengikuti lomba quiz adalah hal yang ku dambakan dan itu menyenangkan menurutku. Lagipula teman-teman tak mungkin bisa protes, karena yang menunjukku adalah guru killer paling hebat di SMA-ku dan tak ada yang bisa menentangnya. Bahkan kepsek di sekolahku yang dikenal sangat berwibawa suka manggut-manggut bila sudah mendengar masukan dari guru killer ini, sebut saja namanya Bu Karisna.

Sebelum mengikuti perlombaan quiz yang akan diadakan 1 bulan lagi, Tim Quiz SMA Harapan Indah yang terdiri dari Anna, Lena dan aku Tomi, diminta melawan perwakilan kelas dari semua kelas di sekolah, mulai dari seluruh kelas yang ada di kelas 1, kelas 2, bahkan kelas 3. Hari ini Tomi akhirnya bisa menunjukkan keahliannya.

Kemudian dimulailah tes quiz Tim Reguler SMA Harapan melawan perwakilan kelas 1 D.

Tanpa diperkirakan semua orang, Tomi menekan tombol sebelum semuanya belum sempat berpikir dan hebatnya dia menjawab semua pertanyaan dengan benar. Beberapa orang berpikir bahwa itu sekedar keberuntungan, ada juga yang menuduh dia telah mencuri jawaban pertanyaan quiznya. Sampai ketika semua perwakilan kelas yang dihadapi akhirnya kalah oleh Tomi seorang dan semuanya kaget dengan kejeniusan Tomi. Sejak saat itu Lena jadi terus memperhatikan Tomi, dan Lena mulai menyukai Tomi. Sayangnya Tomi hanya menyukai Anna.

Sampai suatu saat, Anna mengajak Tomi jalan dan memintanya untuk di make over oleh Make Up Artist langganan keluarganya. Awalnya Tomi merasa agak risih, sampai akhirnya setelah selesai dirias. Sungguh perubahan yang luar biasa, Tomi tampak berubah 360 derajat dan terlihat bagaikan model tampan oppa-oppa Korea. Anna yang melihatnya bahkan tertegun dan sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dalam perjalanan pulang, Anna meminta Tomi untuk ke perpustakaan kota sebelumnya. Di perpustakaan itu, akhirnya Anna tau kalau Tomi adalah pria yang jenius. Tomi jujur pada Anna dan mengatakan bahwa IQ-nya 165 dan alasan kenapa saat ujian nilainya jelek, karena dia menderita Sindrom Panik Ujian. Mereka berdua-pun akhirnya malah saling curhat tentang keberadaan masing-masing dan entah mengapa, Anna merasa nyaman berada dekat dengan Tomi.

Ke-esokan harinya di sekolah. Semua orang terkejut dengan perubahan drastis Tomi. Terutama para wanita yang jadi pangling melihat ketampanan Tomi. Bahkan Lena yang sudah mulai tertarik dengan Tomi makin jatuh hati dengan gaya Tomi sekarang. Namun, semua berubah ketika Anna datang dan menggandeng tangan Tomi dari belakang dan berjalan bersamanya. Sekali lagi Lena merasa dikalahkan oleh saingan terberatnya. Namun tak ingin kalah dengan cintanya, Lena mengajak bertemu Tomi disaat pulang sekolah nanti di belakang sekolah.

Jam sekolah pun berakhir dan Lena menunggu Tomi di belakang sekolah.

Tomi pun datang sambal penasaran.

“Hai, Lena. Sudah lama menunggu?” tanya Tomi yang baru datang.

“Ah~ belum lama kok, aku juga baru sampai di sini.” Balas Lena.

“By the way, ada apa memanggilku kemari? Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Tomi.

“Ya, ada hal yang sangat penting yang ingin ku katakan.”

“Apa itu?”

“Jujur. Aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi pacarku. Apa kau mau?~” terang Lena.

“Apa? Kau tidak sedang bercanda kan? Apa semua ini karena kini aku telah berubah seperti ini?” jelas Tomi.

“Aku menyukaimu sejak tau bahwa kau jenius dan aku tambah menyukaimu sejak aku melihatmu hari ini dengan tampilan yang berbeda. Aku tak punya alasan lain lagi. Aku tak tau bagaimana, tapi yang jelas yang kurasakan aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi kekasihku..”

“Tapi aku menyukai wanita lain.”

“Siapa wanita lain itu? Apakah dia adalah Anna” tanya Lena.

“Iya benar, wanita yang ku suka sejak lama adalah Anna. Maafkan aku Lena.” Tegas Tomi.

“Kenapa? Kenapa aku selalu kalah dari Anna. Kenapa aku selalu menjadi nomor dua bila berhadapan dengan Anna? Bahkan orang yang pertama kali kusukai juga lebih menyukai Anna dibanding diriku. Apa kurangnya aku? Kenapa dia selalu lebih unggul dariku?” erang Lena sambil menangis tersedu-sedu.

“Maafkan aku Lena. Aku minta maaf..”

“Tidak, ini tidak akan.” Ucap Lena kencang.

Lena kemudian memegang kepala Tomi dan menarik kepalanya berhadapan dengan wajahnya, kemudian mencium bibir Tomi sambil menangis.

Tomi tampak shock dengan ciuman tersebut. Ini adalah ciuman pertama Tomi.

***

V

Cinta di Kedai Amor

Aku adalah pemilik Kedai. Nama Kedaiku adalah Kedai Amor yang artinya Kedai Cinta, Amor adalah Cinta jika ditranslate dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia menggunakan Google Translate. Hahaha.. Mengapa memilih Amor sebagai nama Kedainya? Karena aku sebagai pemilik Kedai bernama Mori, “Gak nyambung sih tapi suka-suka gue ya’kan?”. Tapi dilain sisi, setelah Kedai ini berdiri sampai saat ini baru sekitar satu bulan setengah, banyak orang yang jadian dan jadi pasangan setelah datang ke Kedaiku. “Kok bisa ya? Apa karena namanya atau suasana di Kedai-ku yang ku buat romantis? Entahlah”. Yang jelas aku senang, sejauh ini bisnis berjalan dengan lancar.

Saat ini usiaku sudah mau menginjak kepala tiga, bulan depan tepatnya tanggal 14 Agustus, aku akan menginjak usia 29 tahun.

Selama usaha Kedai ini, aku jadi baper karena rata-rata pelangganku adalah pasangan dua sejoli. Selama menjaga Kedaiku aku terus melihat pasangan yang saling mesra-mesraan. Sebenarnya sih tujuh tahun yang lalu aku pernah punya pacar, namun kami putus dan itu membuatku take bisa move-on bertahun-tahun. Aku sayang dia, namun kami putus karena salahku juga. Waktu itu aku menguji kesetiaannya, aku pura-pura jadi orang lain dan menelponnya. Aku bilang (sebagai pria lain) bahwa aku ingin jalan dengannya, dan mantan pacarku itu bilang bahwa dia mau. Sontak aku jadi cemburu dan mendiamkannya beberapa lama. Karena sikapku itu, dia pun minta putus. Dan itu salahku. Bahkan saat membicarakan hal tersebut ke sepupu perempuanku dia bilang harusnya aku tak boleh begitu dan tentu saja itu jelas salahku. Namun mau bagaimana lagi, kami telah putus dan dia sudah punya kekasih baru.

Saat bekerja di Kedai-ku aku sempat melihat seorang wanita cantik yang membuatku terpesona, hanya saja aku tak bisa untuk berkenalan dengannya. Karena aku orangnya pemalu. Huhu… Ketika ingin bisa kenal dengannya, sayangnya dia tak pernah datang ke Kedai ini lagi sejak saat itu. Saat ku tanya temannya, ternyata wanita tersebut sudah pindah daerah untuk study-nya. Sedih! Ya sudahlah berarti dia bukan jodohku.

Hari berganti hari, usahaku semakin lancar dan aku menambah karyawan baru dua orang. Tiga hari lagi ulang tahun-ku, aku bingung apa yang harus kubuat di hari spesial-ku. Salah satu karyawanku yang bekerja denganku sejak awal berdiri Kedai ku menyarankan untuk membuka Kedai gratis makan selama sehari tersebut pada ulang tahun-ku, juga membuat ibadah syukuran untuk ulang tahun-ku. Menanggapi idenya tersebut yang menurutku bagus, aku pun menyetujuinya.

Tibalah pada hari ulang tahun-ku, ternyata pada subuh hari, para karyawanku memberikan kejutan Selamat ulang tahun. Aku sungguh terharu dan berterima-kasih.

Paginya kami mengadakan ibadah syukuran dengan mengundang seorang hamba Tuhan untuk mendoakan. Ibadah berjalan dengan hikmat.

Tak kusangka pada sore harinya datang seorang wanita yang tak asing bagiku. Dia memesan Es Kopi Cappuccino dan Pisang Keju Amor (salah satu menu special Kedai Amor). Setelah ku perhatikan, ternyata dia wanita yang ku sukai waktu itu. Aku pun memberanikan diri untuk mengajak berbincang dengannya.

“Hai, Hari ini Kedai kami gratis pesan apa saja untuk dipesan. Tapi syaratnya makan di sini dan mesti habis dulu pesanan minuman dan makanannya, baru boleh pesan menu baru. Hahaha…”

“Wah asik dong. Dalam rangka apa nih Kedainya bisa gratis gini?”

“Soalnya yang punya Kedai lagi berulang tahun. Haha”

“Pemilik Kedainya kamu kan?”

“Kok tau?”

“Ya taulah, sebelumnya kan dulu pernah datang ke sini dan meratiin.”

“Hahaha.. oh gitu ya..”

“Selamat ulang tahun ya” ucap sang wanita sambil tersenyum.

“Makasih.. nama gue Mori. Nama lu?”

“Annatasha, panggil aja Anna”

“Wah barangkali kita Jodoh ya?”

“Hahaha kok bisa”, ucap Anna tersipu malu.

“Nama Kedai ini kan Amor, yakni singkatan dari Anna Mori. Hahaha… Becanda” seru Mori.

“Bisa aja kamu.. hahahah”

“By the way, boleh minta nomor Whatsapp mu gak?” Tanya Mori memberanikan diri.

“Boleh, ini 08128755xxx”

“Makasih ya”

“Sama-sama”

“Umm… Ngomong-ngomong bukannya lu sekolah di luar daerah ya, kok bisa ada di sini lagi?” Tanya Mori.

“Ohh gue lagi cuti, kangen orang tua juga haha…” Ucap Anna.

“Sejak kapan tiba di sini?”

“Baru kemaren.”

“Kapan balik ke…” Mori bertanya.

“Yogyakarta?” Potong Anna.

“Iya, kapan balik ke Yogyakarta?”

“5 Hari lagi.”

“Wahh cepet juga ya?”

“Iya, hahaha…”

“Nanti kapan-kapan aku hubungin ya?”

“Iya, dengan senang hati”

“Makasih” seru Mori.

“Sama-sama..” balas Anna.

Waktu pun berlalu, meski terhalang jarak dan waktu Mori dan Anna tetap sering berhubungan via chatting, telponan maupun video call. Meski hanya dengan status pertemanan, namun rasanya mulai ada yang berbeda antara mereka berdua.

Mori pun menembak Anna pada suatu waktu, hanya saja Anna menolak dengan alasan ingin fokus di kuliahnya. Mori pun menerima dengan lapang dada. Meski begitu mereka tetap saling berhubungan satu sama lain.

Akhirnya Anna sudah lulus dari kuliahnya. Dia pun pulang ke Sulawesi. Ingin memberi kejutan ke Mori, Anna pun datang ke Kedai Amor. Mori terkejut, mengapa Anna bisa ada di tempatnya sekarang. Anna pun bertanya pada Mori, “Apa kamu masih menyukaiku?”

“Iya.. tentu saja” jawab Mori singkat.

“Kalau gitu, apa kau mau jadi pacarku?” Tegas Anna.

“Tentu saja aku mau” seru Mori.

Akhirnya merekapun jadian di Kedai Amor.

***

VI

Sido dan Miya

Sido dan Miya adalah teman sekelas yang awalnya tidak begitu akrab. Semuanya berubah ketika Miya ikut masuk di klub yang sama dengan Sido, yaitu klub basket.

Pertandingan DBL(Deteksi Basket League) Cup akhirnya telah berakhir, akan tetapi kini tim SMAN 1 Jakarta sudah tidak memiliki manajer tim lagi. Itu semua terjadi saat di pertengahan kompetisi di DBL Cup, sang manajer meminta untuk mengundurkan diri. Kini Miya yang belum memiliki klub untuk dituju akhirnya memutuskan untuk masuk ke tim basket dan menjadi manajer.

“Apa? Sido kapten tim basket sekolah kita? Si cebol ini? Pffft… Apa aku tak salah dengar? Kak pasti bercanda kan? Mana mungkin si cebol ini menjadi kapten tim, padahal dia masih kelas satu sama seperti ku. Aku tak bisa berhenti tertawa dengan lelucon bodohmu ini kak senior …” ucap Miya tak berhenti tertawa karena tak percaya.

“Siapa yang kau panggil cebol? Dasar Miya rice cooker. Aku adalah kapten yang baru dari tim SMANSA ini, Sido Diningrat. Camkan itu!” tegas Sido.

“Hah?! Kau sungguhan Sido? Hei.. jangan sebut aku merk rice cooker Sido.”

“Itu sangat cocok untukmu nama merk terkenal. Haha.. Tentu saja aku adalah kapten yang baru dari tim SMANSA Jakarta. Terserah aku mau menyebutmu Miya rice cooker.”

“Sebagai seorang kapten kau tampak kekanakan sekali Sido. Bodoh.. aku panggil kau jadi Sido ‘sibodoh’ saja.” ucap Miya sambil menjulurkan lidah *meledek*

*menatap dingin* “Panggilan tidak sopan” ucap Sido.

“Itu karena kau yang mulai duluan kan”

“Aku takkan mulai kalau kau tadi tak menyebutku cebol. Miya rice cooker”

“Ya sudah terserah kau saja, yang penting sekarang aku adalah manajer tim yang baru sekarang. Sebaiknya kita lupakan yang tadi. Mohon kerja-samanya kapten Sido.” Ujar Miya sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Heh?! Baiklah. Mohon kerja-samanya juga Miya-bi.” Sido iseng.

“Ehh?!! Apa kau bilang Miyabi, apa maksudmu Miyabi yang itu?” tanya Miya.

“Ya, mungkin.” Jawab Sido cuek.

“Kau jahat, jahat… Sido jahat..” Miya ngambek dan matanya seperti akan mengeluarkan air mata.

“Hei.. Hei.. Sido jangan begitu sama perempuan. Kau harus memperlakukan wanita dengan baik SIdo. Bagaimanapun dia manajer kita loh!” ucap Reo begitu bijak.

“Tumben kau begitu bijak Reo. Ya tapi ucapanmu memang benar. Maafkan aku Miya.” Sido meminta maaf.

“Sido kau harus bersikap lebih baik kepada manajer kita yang baru ya? Jangan sampai hal yang sama terulang lagi. Bagaimanapun dia manajer kita yang ketiga di tahun ini loh” seru Buyat.

“Aku mengerti, aku mengerti. Baiklah.” Sido mendengarkan para seniornya. “Kalau begitu, ayo kita teruskan latihannya. Manajer Miya mohon bantuannya ya?” Ucap Sido sambil tersenyum.

“Iya, baiklah” Miya mengusap matanya dan tersenyum. Inilah awal dari hubungan antara Sido dan Miya.

Skip

Pertandingan latihan SMANSA Jakarta melawan SMA Bintang Harapan, mempertemukan kembali Sido dan Jimy. Sido kali ini tampak bermain serius ketika melihat perubahan besar positif dalam permainan Jimy.

“Kereennn… Aku tak menyangka si Sido akan tampak begitu keren ketika sedang bertanding seperti ini. Dia tampak begitu serius dan memimpin tim dengan sangat baik. Sekarang aku baru mengerti kenapa dia dipercayakan sebagai kapten tim oleh pelatih. Sido luar biasa!..” ucap Miya dalam hatinya. “Aku sungguh beruntung telah bergabung di tim ini sebagai manajer. Aku bisa melihat Sido setiap saat, berbicara dengannya dan tentunya kami akan lebih dekat lagi nantinya. Ehh??.. apa yang aku pikirkan?” ucap Miya yang kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan memegang pipinya yang memerah. “Apakah itu tandanya aku mulai menyukainya. Hmm.. Awal pertemuan kami saat itu memang menyebalkan, meskipun itu karena salahku juga yang menyebutnya cebol padahal dia masih lebih tinggi dariku. Akan tapi akhir-akhir ini Sido sudah jauh lebih ramah dan tidak usil lagi padaku. Dan melihat pertandingannya kali ini, aku begitu kagum. Tapi entah kenapa hatiku mulai berdebar kencang saat aku memperhatikannya. …”

*Piiippp* Peluit tanda permainan berakhir berbunyi. SMANSA Jakarta menang dengan selisih yang cukup jauh 98 – 71.

“Yeahh… kita menang! Kita menang! Kalian semua sudah berjuang dengan keras. Terima kasih banyak” seru Miya melihat kemenangan tim untuk pertama kalinya.

“Tidak. Yang seharusnya berterima kasih adalah kami manajer. Kau telah mengurus tim dengan baik. Terima kasih banyak. Yosh!! Kita menang…” ucap Hayat.

“Ya, terima kasih manajer ini semua berkatmu juga bagaimanapun.” Ucap Sido gagah, disusul ucapan terima kasih dari anggota tim yang lain.

“Semuanya…” Miya tampak begitu terharu, matanya berkaca-kaca.

Semenjak saat itu Miya lebih rajin dan terus berjuang keras untuk tim, mengumpulkan data pemain, mencari informasi tentang tim lawan dan lain sebagainya. Dan karena sikap tersebut Sido mulai memperhatikan Miya.

“Sido.. Sido.. apa kau mendengarkan aku?” Miya mencoba membuat Sido tersadar dari lamunannya.

“Ya.. ya.. ada apa?” tanya Sido.

“Jadi kau tidak mendengarkan penjelasanku dari tadi ya? Kau malah memandangiku dengan tatapan seperti itu..” ungkap Miya.

“Maaf..” Sido memalingkan wajahnya.

“Mungkin kau butuh istirahat sebentar, Sido.”

“Tidak.. tidak perlu. Aku baik-baik saja. Tolong ulangi penjelasanmu”

“Baiklah. Jadi begini …” Miya menjelaskan keberadaan tingkat permainan anggota tim seperti yang diminta Sido.

“Aku mengerti. Terima kasih untuk penjelasanmu. Um.. Miya apa pulang sekolah nanti kau ada waktu?” tanya Sido malu-malu.

“Eh? Ada perlu apa Sido? Um.. sepulang sekolah aku punya banyak waktu luang, jadi boleh saja” dalam hati Miya, dia sudah cukup kegirangan. ‘apakah ini ajakan ngedate dari Sido? Kyaa~’.

“Eh itu, aku ingin membahas tentang tim lebih jauh denganmu.” Sido mencari alasan.

“Oh.. begitu ya?” seketika perasaan Miya ngedrop ‘sepertinya aku terlalu geer’. Miya sedikit murung.

Melihat hal tersebut.. “Tapi.. mungkin kita juga akan membahas yang lain, selain tentang tim basket kita..” seru Sido.

“Ha?? Maksudmu? Baiklah” Miya tampak girang kembali, setidaknya dia bisa berduaan dengan cowok yang dia sukai, Sido.

“Ya..”

Merekapun datang ke cafe Lamoe. Sido memesan minuman dan makanannya, Miya juga sama. Miya memulai percakapan dengan bertanya pada Sido tentang hal yang mau dibahas tentang tim. Sebenarnya yang ditanyakan oleh Sido dan apa yang dibicarakannya tidak begitu penting dan terkesan sebagai suatu alasan saja untuk bisa membuat situasi seperti ini, maksudnya agar Sido bisa jalan dan berduaan dengan Miya. Setidaknya itu yang saat ini mulai dipikirkan Miya. ‘Apakah sebenarnya Sido juga menyukaiku hingga membuat alasan klise seperti ini. Setidaknya hal seperti ini bisa dibicarakan cukup di tempat latihan. Tapi entah kenapa aku malah jadi senang sendiri. Ku harap dugaanku benar.’ Sido membuyarkan lamunan Miya.

“Miya apakah kau sudah mempunyai pacar?” tanya Sido to the point.

“Eh?? Sido.. apa maksudmu bertanya hal tersebut?” Miya panik, jantungnya berdegup kencang, dia mulai salah tingkah. “Anu, aku belum punya pacar Sido”

“Syukurlah..”

‘apa maksudnya dengan syukurlah? Apa Sido mau …’

“Miya-san maukah kau menjadi pacarku?”

“YA-A” Miya reflek berkata iya dengan kata yang cukup kencang. Sontak pipinya langsung memerah. Yang terjadi malah Miya yang jadi malu. Namun perasaan bahagianya lebih kuat hingga menutupi rasa malunya sendiri di depan Sido. Mulai hari ini mereka resmi berpacaran.

Di akhir pekan Sido mengajak Miya untuk menemaninya ke suatu tempat. Apakah ini kencan pertama setelah resmi berpacaran?

“Anu, Sido kita mau pergi kemana?” tanya Miya penasaran.

“Aku ingin memperkenalkanmu kepada kedua orangtuaku.” Ucap Sido pelan.

“Hah?? Sido seharusnya kau bilang lebih awal. Jadi aku bisa berpakaian lebih rapih. Aku tidak tau harus bagaimana di depan kedua orangtuamu. …” Miya panik dan salah tingkah.

“Tidak apa-apa Miya. Kau hanya perlu menemaniku saja. Bagaimanapun aku sangat senang bisa membawamu dan memperkenalkanmu kepada mereka.”

“Sido..”

Mereka pun tiba di tempat tujuan.

“Eh?! Sido ini kan? ..”

“Ya.. Maaf baru memberitahumu, sebenarnya kedua orangtuaku sudah meninggal. Sejak aku kelas 1 SMP dulu. Aku membawamu ke sini untuk memenuhi janjiku. Ayo ikutlah denganku.” Seru Sido.

“Sido..”

Mereka tiba di makam ke dua orangtua Sido.

“Papa, Mama. Seperti janjiku waktu itu, aku akan memperkenalkan pacarku pada kalian. Namanya Miya, dia anaknya baik, manis, dan penuh semangat, aku sangat menyukainya. Ku harap Papa dan Mama juga menyukainya. Miya.. ucapkanlah salam untuk ke dua orangtuaku.”

“Ya, baiklah Sido. Om, tante.. Namaku Miya Indrawari, aku adalah pacar Sido anak kalian. Aku juga sekelas dengan Sido. Dan juga aku adalah manajer di tim basket kami. Aku sangat menyukainya, anak kalian benar-benar keren dan luar biasa. Dan sungguh aku menyayanginya juga. Jadi ku mohon terimalah aku sebagai bagian dari keluarga kalian.” Miya berkata dengan sungguh-sungguh.

Sido blushing. “Miya…”

“Miya aku punya hadiah untukmu. ..” Sido menunjukkan sesuatu.

“Kalung dengan cincin yang tergantung?”

“Iya, ini adalah cincin peninggalan ibuku. Sebenarnya itu adalah cincin nikah ibuku. Aku sengaja memberikan padamu dalam sebuah bentuk kalung agar kau bisa menjaganya, sampai hari itu tiba dimana cincin itu bisa ku kenakan di jemari tanganmu suatu hari nanti. Aku akan memakai kalung yang ada cincin ayahku. Kemarilah, biar ku kalungkan ini ke lehermu Miya” ucap Sido.

Wajah Miya memerah, dia sangat senang mendengar ucapan Sido barusan. “Iya..” Miya membiarkan Sido mengalungkan kalungnya ke lehernya. “Cantiknya..”

“Sido.. biarkan aku mengalungkan kalungnya ke lehermu” pintah Miya.

“Baiklah”

Miya mengalungkannya. Selesai itu Miya langsung memeluk Sido erat. “Terima kasih Sido… terima kasih.. Ini merupakan hari terindah dalam hidupku, aku takkan pernah melupakannya.”

10 tahun kemudian.

Irama musik pernikahan terdengar.

“Sido Diningrat, apakah kau bersedia hidup setia dalam suka dan duka bersama Miya Indrawari?”

“Ya, aku bersedia akan hidup setia dalam suka dan duka bersama Miya Indrawari sampai maut memisahkan kami.” Ucap Sido tegas.

“Miya Indrawari, apakah kau bersedia hidup setia dalam suka dan duka bersama Sido Diningrat?”

“Ya, aku bersedia akan hidup setia dalam suka dan duka bersama Sido Diningrat sampai maut memisahkan kami.” Ucap Miya yakin.

“Baiklah, dengan ini ku nyatakan kalian berdua resmi menjadi suami istri. .. Mempelai boleh mencium pasangannya.”

Sido membuka tudung Miya, kemudian mereka berdua berciuman.

***

VII

My Orange Love

Kalau mau dibilang sebenarnya warna favoritku biru dan putih. Kalau mau ditanya alasannya, sudah jelas karena aku sangat menyukai langit, langit yang cerah bersama awan putihnya. Yang langit biru dan awan putihnya. Kalau diingat-ingat awal aku menyukai kedua warna tersebut adalah karena ketika aku masih kecil dan entah itu di pagi atau di siang hari di halaman rumahku, biasanya aku suka melihat ke atas langit mengarahkan kepalaku menatapnya agak lama. Hal tersebut menurutku sangat indah dan menenangkan. Entah kenapa kupikir itu ‘keren’. Lalu aku menggambar pemandangan alam yang umum di kalangan anak kecil, yakni gambar dua gunung, satu mata hari, satu jalanan lurus yang miring ke kanan, padi-padian, rumah, pohon, dan juga langit birunya dan awan putihnya serta gambar burung di langitnya yang tampak seperti angka 3 horizontal, gambar tersebut kubuat di komputer menggunakan paint, lalu ku save untuk ditunjukan ke Papa nantinya. Entah mengapa perasaan dalam hatiku saat menggambar gambar tersebut adalah biru –khususnya– (maksudnya biru dalam artian keren atau terpesona), mungkin karena itu warna favorit pertamaku, juga memang karena awal ku mulai menggambar gambar tersebut karena aku begitu terpesona dengan warna dan indahnya langit.

Namun sore itu mengubah segalanya. …. Suasana kala itu, pemandangan dan warna yang tampak masuk ke dalam jangkauan penglihatanku. Memori itu masih terekam sampai saat ini di dalam otakku. Menjadi salah satu kenangan yang sangat indah dan tak terlupakan. Perasaan kala itu membuat hatiku benar-benar terhanyut dan jatuh cinta, suasananya sungguh ini dan menenteramkan hati. Aku benar-benar begitu terpesona dan takjub bila mengingatnya kembali. Itulah saat pertama semuanya berubah. …. Bila ku gambarkan dengan warna, warna itu adalah Orange. Ya Orange.. Dari situlah awal cintaku bermula. My Orange Love story.

Dia, sebut saja Maria, wanita yang tiap sore bermain music di taman Kirana, Bandung. Kala pertama kali melihatnya bermain music, aku benar-benar terpukau. Permainan music biolanya yang indah dan menenangkan, kecantikan parasnya, dan suasana oranye sore itu. Dia t’lah mencuri hatiku lewat keberadaannya. Entah mengapa sejak saat itu, aku mencintai warna oranye. Aku menyebut gadis itu My Orange Love. Sambil melihat permainannya, akhirnya akupun terhanyut untuk menjadi salah satu penonton setianya. Dikemudian hari aku pun membawa peralatan melukisku dan tiap sore di taman Kirana, aku melukis My Orange Love yang sangat ku damba.

Sampai akhirnya, dia pun menyadari keberadaanku yang selalu memperhatikannya dan melukis dirinya. Kamis itu, aku bisa berbicara dengannya. Bahagianya. Sejak saat itu kami pun jadi akrab dan tak terasa dalam setahun, aku sudah melukisnya sebanyak ratusan gambar. Aku pun membuka galeri pribadiku sendiri. Kemudian aku menghubungi Maria, namun yang mengangkat telponku, bukan Maria. Melainkan Ayahnya Maria, pak Sutojo. Dia menjelaskan bahwa Maria sedang dioperasi dengan penyakit yang dideritanya.

Aku tak mengerti, karena selama ini Maria tak pernah menceritakan tentang penyakitnya. Saat menunggu di Rumah Sakit, Ayah Maria memberikan suatu surat kepadaku, surat yang ditulis oleh My Orange Love, Maria.

Aku pun membacanya selama menunggu proses operasi Maria.

~~~

Rian, terima kasih karena telah menjadi penonton setiaku selama ini.

Sejak mengenalmu aku jadi lebih bahagia, lukisan yang kau buat untukku sungguh sangat indah.

Aku tak tau mengapa, namun selama lebih dari satu tahun mengenalmu, aku sungguh merasa nyaman karena keberadaanmu.

Aku tau kau terus melukisku hampir setiap sore ketika aku datang memainkan biolaku di taman Kirana.

Jujur, sebenarnya aku menyukaimu. Namun aku tak bisa mengungkapkannya langsung padamu.

Karena aku takut nantinya kau akan tersakiti.

Aku mengidap kanker stadium empat. Dan menurut dokter aku akan meninggal di tahun ini.

Menyedihkan bukan. Maafkan aku karena hanya bisa jujur padamu lewat surat ini. Sekali lagi maafkan aku.

Namun, aku ingin mengatakan padamu aku menyukaimu. Akan tetapi, disaat kau selesai membaca ini. Aku tak tau apakah aku masih bisa hidup atau tidak. Setidaknya kau harus tau perasaanku. Namun, sekali lagi aku minta maaf, karena aku hanya akan menjadi memori yang menyedihkan dalam hidupmu. Maaf.

Jujur, aku ingin melihat galeri lukisanmu yang pernah kau ceritakan padaku. Namun bagaimana lagi. Disaat kau membaca ini, mungkin aku sedang di operasi dan juju raku sudah pasrah dengan hidupku. Terima kasih, karena keberadaanmu membawa arti yang indah dalam hidupku. Lukisanmu telah menyentuh hatiku. Aku mencintaimu, Rian.

Maafkan aku.

Maria, 31 Juli 2018.

~~~

Sambil membaca surat tersebut, Rian meneteskan air matanya. Dia bahkan belum bisa jujur pada Maria akan perasaanya. Beberapa saat setelah membaca suratnya, dokter keluar dan mengatakan hasil operasinya sambil tertunduk. Setidaknya aku bisa membaca raut wajah sang dokter. Ya, Maria telah kembali ke sisi sang Pencipta. My Orange Love has gone.

Meskipun dia telah pergi. Namun kenangannya akan selalu ada. Galeri yang kubuka telah menjadi terkenal. Sayangnya Maria tak bisa melihatnya meski hanya sesaat. Galeri tersebut kunamakan My Orange Love, untuk mengingat sang gadis menawan yang selalu memainkan biolanya di sore hari di taman Kirana.

***

VIII

Sekilas

Seorang pria berjalan cukup dekat ke arah seorang wanita yang wajahnya tampak begitu manis.

Ketika sudah semakin dekat, pria yang sedang memegang kepalanya dengan tangan kanannya itu tiba-tiba melayangkan tangannya ke arah wanita tersebut.

Wanita manis itu cepat-cepat berteriak dengan menjerit, “biar aku sendiri saja”.

Sang pria tampak kebingungan.

Wanita itu kemudian dengan cepat mengangkat tangan kirinya dan menampar wajahnya sendiri yang sebelah kiri dengan cepat.

Sang pria yang melihat hal itu sontak terkejut dengan apa yang telah diperbuat wanita manis tersebut.

Sang wanita hanya bisa tertunduk, dengan kedua tangannya memegang pipi kirinya yang terasa sakit. Matanya tampak berkaca-kaca seperti ingin menangis.

Lalu kemudian sang pria berkata, “nona apa yang telah kau perbuat? Aku tadi hanya ingin menunjuk liontinmu yang tampak begitu indah…”

Sang wanita yang shock mendengar perkataan pria tersebut yang belum selesai, langsung menangis terisak-isak sambil tangan kanannya memegang liontin dan tangan kiri memegang pipi kirinya yang masih terasa sakit.

Entah apa yang dipikirkan wanita manis itu. Tapi dia memang memiliki sedikit gangguan psikis sejak 2 tahun yang lalu disebabkan trauma yang pernah dialaminya dulu, hingga membuatnya bisa melakukan hal aneh seperti demikian.

Sang pria yang tak mampu melihat seorang wanita manis seperti itu menangis, segera berusaha membujuknya agar wanita manis tersebut bisa tersenyum bahagia, tanpa sedikitpun mempertanyakan hal aneh yang barusan diperbuatnya agar tidak membuat wanita tersebut malah akan semakin bersedih.

Mereka berduapun pada akhirnya bisa terlihat lebih akrab satu sama lain. Sang pria membuat guyonan lucu yang mampu membuat sang wanita tertawa terbahak-bahak, kontras dengan kejadian yang barusan terjadi. Pria itu tanpa sedikitpun mempertanyakan kenapa wanita itu bisa seperti tadi. Meskipun hati kecilnya sebenarnya penasaran dengan apa yang sedang dialami wanita ini hingga dia bisa bertingkah seperti itu. Perasaan itu cepat ditahannya, melihat wanita itu bisa tertawa dan tersenyum manis, saat ini yang dia ketahuinya bahwa yang terpenting dia harus membuat wanita ini merasa lebih tenang dan tidak menjadi murung lagi.

***

IX

Insiden Tak Terduga

Pada suatu hari, idol group JKT45 mengumumkan pada hari kamis, minggu depan akan diadakan kontes dance cheers untuk para fans JKT45 dalam menyemangati semua member JKT45. Dan akan dipilih dance terbaik untuk dijadikan sebagai salah satu dance cheers umum wajib bagi para fans JKT45 saat member JKT45, oshi mereka tampil untuk sebuah konser.

Disaat bersamaan seorang pemuda tampan bernama Aqui yang dikenal memiliki sifat dingin dan cuek, diam-diam juga ternyata begitu mengidolakan JKT45. Melihat kabar berita tentang kontes dance cheers tersebut, entah kenapa hati Aqui tergerak untuk ingin mencoba mengikutinya. Selain karena pemuda itu begitu mengidolakan JKT45 dan tawaran bahwa dance cheers tersebut bisa dijadikan dance cheers wajib bagi para fans JKT45 saat oshi-oshi mereka tampil, dan juga para pemenang akan mendapat hadiah spesial berupa merchandise dari JKT45, album baru pertama mereka “Heavy Global Rotation”, juga salah satu item kesayangan oshi mereka. Namun terlebih dari itu semua, karena para pemenangnya juga diberi hadiah khusus tambahan, bisa mengikuti aktifitas para member JKT45 selama seminggu. Itu berarti pemenangnya dapat menghabiskan waktu bersama semua member JKT45 selama mereka latihan dalam jangka waktu seminggu! Dan Aqui ingin sekali memenangkannya. Untuk bisa bertemu dan lebih dekat lagi bersama idolanya para member JKT45, meskipun itu hanya dalam waktu seminggu saja.

Jantung Aqui tiba-tiba berdegup sangat kencang. Ketika dia mulai membayangkan saat-saat dimana dia bisa menonton para member JKT45 menggelar latihannya dengan kedua matanya sendiri di tempat latihan mereka. Kemudian bisa berkumpul bersama dan saling berhadapan dengan semua member JKT45 khususnya. Melakukan banyak hal yang menyenangkan. Kemudian bayangan itu segera hilang seketika. Disaat Aqui kemudian teringat bahwa untuk bisa mendapatkan hal tersebut, pertama-tama ia harus membuat sebuah dance cheers khusus untuk bisa memenangkan perlombaan kontes tersebut. Aqui pesimis bisa melakukannya. Walaupun persyaratan mengikuti kontes bisa dilakukan sendiri.

Selama beberapa hari sebelum hari kamis dimulainya kontes itu. Aqui berpikir dan mencoba bereksperimen membuat sebuah gerakan-gerakan dance baru dan mengkombinasikannya menjadi suatu dance cheers yang utuh.

Tibalah pada hari “H” yang telah dijadwalkan. Pemuda cuek yang tampan itu telah menginjakkan kakinya di Studio Theater JKT45 untuk mengikuti kontes tersebut sendirian tanpa partner seorangpun.

Selama menunggu gilirannya tiba, Aqui berbicara dalam hatinya. “Apa yang lu pikirin Aqui..? Astaga kenapa gue bisa ada disini sekarang? Hanya untuk mengikuti kontes yang seperti ini. Ahhhh~~ Mana penampilan semua peserta kontes akan disiarkan di TV Nasional secara live lagi. Gimana kalo gue diliat ama anak-anak kampus. Melakukan sebuah dance yang nantinya mungkin akan tampak begitu bodoh dan memalukan! Mau ditaruh dimana muka gue? Apalagi dengan status gue sebagai Mahasiswa unggulan jurusan hukum, asdos yang terkenal dengan kewibawaannya. Dan saat ini gue… gue…” 

Saat sedang berpikir seperti itu, seketika pikiran Aqui teralihkan sewaktu salah satu anggota JKT45 berdiri di depannya sambil tersenyum hangat untuk memberikan semangat. Aqui tertegun melihat gadis manis tersebut. 

“Gila… Nasyila!! Nasyila di depan gue sekarang tersenyum buat nyemangatin gue. Mimpi apa gue semalam bisa seperti ini?” Bicara Aqui dalam hati. 

Lalu, “Hey, semangat ya. Lakukan yang terbaik. Ok! ;)” Ucap Nasyila ke Pemuda tampan itu singkat. 

Jantung Aqui berdegup sangat cepat kala itu seketika pipinya memerah. Ekspresinya terlihat jelas oleh semua member JKT45 yang melihat ke arahnya dan Nasyila. Mereka tertawa melihat ekspresi Pemuda yang adalah Mahasiswa Jurusan hukum tersebut, bersamaan dengan peserta lain yang juga ikut tertawa. 

Aqui langsung mengangkat suaranya, “Iya. Gue akan mempersembahkan yang terbaik. Untuk JKT45. :)” seru Aqui dengan penuh keyakinan sambil menahan rasa malunya.

Para member JKT45 yang lainpun lewat satu per satu menyemangati semua para kontestan. Semangat, Semangat, Semangat!! Ganbatte…!!!

Tibalah giliran Aqui untuk tampil setelah para kontestan sebelumnya sudah selesai tampil. Juri yang adalah para pengurus dari Official duduk didepan untuk memberi penilaian. Disebelah kiriku ada para kameramen yang siap meliput. Disebelah kanan ada para member JKT45 memperhatikan dan memberikan semangat. Ada yang dalam keadaan duduk dan ada pula yang lebih suka dalam keadaan berdiri. Dance pun dimulai. Dengan rawut wajah yang memerah Aqui memulai gerakannya. Dancenya terlihat tampak atraktif dan menarik oleh para juri, semua crew yang melihat terkesima. Dan para member JKT45-pun satu persatu mulai bertepuk tangan menyemangati. Belum selesai dancenya saat di waktu menit ke 3, Aqui membuat sebuah kesalahan. Akhirnya dia diberi kesempatan untuk mengulang sekali lagi. Semua crew dan member JKT45 memberikan support semangat kepada Aqui agar dia tidak nervous dan bisa menyelesaikan dance nya yang sungguh memukau. Selesai Aqui menunjukkan dancenya. Semuanya bertepuk tangan. Namun Aqui berpikir lain. Dia merasa telah melakukan sesuatu hal yang konyol, yang jauh berbeda dari kepribadian aslinya. Merasa begitu malu dan tau aksinya terekam dalam kamera yang telah disiarkan secara live ke salah satu TV Nasional. Aqui berbalik hendak lari karena merasa begitu menyesal. Disaat bersamaan 4 orang lainnya member JKT45 ternyata sudah berdiri dibelakang Aqui, sengaja untuk memberikan kejutan. Tapi tak disengaja kaki Aqui tersandung sesuatu saat berlari. Aqui-pun terjatuh… *Dwaarrr…

Terasa cukup sakit. Tangannya coba memegang lantai untuk berdiri. “Sial…” Ucapnya dalam hati. Saat merabah lantai itu, terasa berbeda karna yang disentuhnya begitu kenyal dan lembut. Dirabahnya beberapa kali. Dan saat dia membuka matanya!

“Uwaaaa~~~~” Dia mencium seorang gadis dan sudah merabah dadanya beberapa kali!!

Sontak Aqui segera terlonjak mundur karena kaget. Semua yang ada diruangan itu terkejut. Sang kameramen tak menyia-nyiakan kesempatan dengan merekam semua kejadian insiden tersebut. Salah satu gadis itu adalah member JKT45…..!? 

***

X

Malam Hari di Lapangan Basket

Di SMP Bintang, Kenzo bergabung dengan tim Bola Basket untuk memenuhi janjinya kepada sahabat masa kecilnya. Namun dia hanya masuk ke anggota cadangan. Untuk memenuhi janjinya, Kenzo berlatih keras lebih dari anggota klub lainnya. Bahkan ketika latihan selesai, dia tetap latihan di lapangan basket sampai tengah malam.

Suatu ketika, tersebar rumor bahwa pada malam hari ada hantu muncul di lapangan basket.

Untuk menyelesaikan rumor tersebut, Gitta sebagai manajer klub tim SMP Bintang memutuskan untuk mengecek lapangan basket itu sendiri pada malam hari.

Dan, ketika dia memasuki ruangan lapangan basket, dia mendengar bunyi dribble bola basket. Gitta merasa sedikit takut karena tak terlihat seorangpun bermain basket dikala mendengar bunyi dribble bola tersebut.

“Siapa yang bermain bola basket diwaktu selarut ini?” ucap Gitta penasaran dalam hatinya.

Dia berjalan ke depan untuk mengecek dan memastikan. Hingga dia sungguh terkejut karena menyadari rumor yang tersebar adalah benar. Dia melihat hantu bermain basket. Dribble-nya sangat cepat. Hantu yang bisa bermain bola basket. Gitta tidak dapat melihat jelas hantunya, kemudian hantunya menghilang.

Merasa sungguh takut, Gitta berusaha untuk kabur. Namun kakinya tersandung dan mulai terjatuh. *puff*

Kenzo berhenti bermain dan melihat ke arah bunyi yang datang. 

“Ehh.. Siapa itu?” tanya Kenzo dalam hatinya. 

Kenzo pun melihat Gitta dan berlari mendekatinya.

“Aww.. kakiku..” ucap Gitta kesakitan.

“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Kenzo.

“Haahh?” Gitta panik. Dia berbalik ke arah suara.

“Ahhhhhhhhhh~” teriak Gitta.

Kenzo terkejut. “Ku mohon tenang, Aku manusia, Aku bukan orang jahat. Aku anggota tim basket.” Terang Kenzo berusaha menjelaskan.

Situasi pun kembali normal.

“Maaf, ku kira tadi kau hantu.”

“Ehh? It’s okay. Bukan masalah. Itu juga salahku berlatih basket sampai selarut ini. Hingga dikira sebagai hantu. Haha..”

“Tampaknya kau sangat mencintai basket.” Ucap Gitta.

“Iya, basket bagaikan nafas bagiku. Aku berlatih giat juga untuk memenuhi janjiku pada sahabatku. Aku ingin berhadapan dengannya di pertandingan Nasional nanti. Aku berlatih keras agar bisa terpilih menjadi anggota tim inti di sekolah ini.” Jelas panjang lebar Kenzo.

Gitta memperhatikan Kenzo dalam. Pipinya merona mendengar penjelasan Kenzo.

Kenzo menatap Gitta dan Gitta memalingkan wajahnya karena gugup dan sedikit malu.

“By the way, bagaimana kakimu? Apa baik-baik saja? Bisakah kau berdiri? Mungkin aku bisa membantumu..” ucap Kenzo.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Dan, terima kasih.” Balas Gitta.

Kemudian Gitta mencoba untuk berdiri. Tapi, “Ahh~” Dia mulai terjatuh lagi.

Namun Kenzo segera memegangnya.

“Kakimu masih sakit. Biarkan aku membantumu!” ucap tegas Kenzo.

Gitta hanya mengamati dengan intens pada mata Kenzo. *dugdugdug..* Jantung Gitta berdebar sangat cepat. Mungkin suara debaran jantung Gitta terdengar oleh Kenzo, pikir Gitta. Pipinya memerah.

***

XI

Bebed

Pada suatu hari hiduplah seorang anak bandel bernama Bebed. Dia adalah anak yang sangat atraktif, jahil dan suka iseng kepada semua orang, mau itu orangtuanya, saudaranya, teman-temannya, bahkan guru-gurunya pun suka diusilin oleh Bebed. Makanan favoritnya adalah keju.

Suatu ketika, Bebed dipanggil oleh seorang anak gadis yang cantik dan manis, hanya dia lupa namanya Bebed. Makanya sang gadis memanggilnya, “Bebeb”. Dan teman sekelasnya pun menggosipkan bahwa gadis manis dan cantik tersebut adalah pacar Bebed. Karena hal tersebut, sang gadis cilik tersebut yang bernama Tasha, menangis histeris karena diledek seluruh teman sekelas. Bebed malah merasa diuntungkan karena dia dibilang berpacaran dengan anak gadis yang cantik.

Sekarang Bebed sudah kelas 6 SD, mereka sudah memasuki masa persiapan untuk ujian kelulusan. Ternyata walaupun Bebed anak yang jahil, namun sebenarnya Bebed adalah anak yang jenius. Hanya selama Bebed kelas 1 SD sampai kelas 5 SD, Bebed selalu masuk urutan 20 Besar dari 23 siswa yang sama sampai kelas 6 SD sekarang. 

Entah kenapa pada saat ujian test untuk persiapan UAN, Bebed termotivasi untuk menunjukkan kejeniusannya dengan mencoba mendapatkan nilai sempurna disetiap soal yang diberikan guru. Alhasil ternyata Bebed mendapatkan nilai sempurna untuk semua pelajaran dengan sukses. Akan tetapi karena hal itu pun, teman-temannya yang merasa terkalahkan oleh Bebed mengatakan pada wali kelas bahwa Bebed mencuri hasil kunci jawaban dari semua soal mata pelajaran. 

Dengan berani Bebed pun membuktikan pada semuanya bahwa dia mengerjakan dengan murni dan meminta wali kelasnya Bu Fitri untuk menguji dirinya. Demi terlihat keren dihadapan Tasha dan tentang janji mereka bahwa bila Bebed sukses dalam test ujian maka Tasha akan memberikan 10 box keju, Bebed pun menunjukkan kehebatannya.

Melihat kehebatan Bebed yang ternyata merupakan bocah jenius, Tasha pun mulai menyukai Bebed.

Akhirnya Bebed dan semua siswa-siswi kelas 6 SD Maju Jaya selesai melaksanakan Ujian Akhir Nasional. Sebelum pengumuman hasil, sekolah mengadakan acara pentas seni seminggu sebelum pengumuman. Bebed tampil dalam acara pentas seni tersebut sebagai Romeo dalam cerita Romeo dan Juliet, disandingkan dengan Tasha sebagai Julietnya. Pada pentas tersebut, Romeo dan Juliet seharusnya berdansa pada akhir acara, namun yang dilakukan oleh Bebed malah dia menari harlem shake dan membuat gadu acara drama teatrikal sekolah kala itu. Meski begitu, hal tersebut pun menjadi kenangan lucu yang takkan mudah terlupakan.

Sayangnya pada saat kelulusan, Bebed yang mau bersekolah ke SMPN 1 Tampelan harus berpisah dengan Tasha yang pindah ke Jakarta. Walaupun senang dengan hasil kelulusannya yang menunjukkan Bebed sebagai siswa dengan nilai terbaik alias juara 1(satu), Bebed tetap terlihat kecewa karena harus berpisah dengan Tasha.

Meski begitu mereka tetap saling berhubungan lewat chatting via Line.

***

XII

Cinta yang Terpendam

Waktu itu musim panas, aku diminta temanku untuk bertemu seseorang di taman kota. Saat sedang berjalan di taman tersebut, terdengar bunyi permainan musik oleh seseorang.

“Pianika? Mainnya bagus juga.” Kino pun mendekati asal bunyi tersebut karena penasaran.

‘Saat aku bertemu dengannya, hidupku berubah. Semua yang ku lihat, semua yang ku dengar, semua yang ku rasakan. Segala hal disekitarku mulai berwarna. Seluruh dunia mulai berkilauan.’

Sang gadis yang bermain pianika tersebut selesai memainkan pianikanya. Dengan dedaunan pohon yang berguguran terbang dibawa angin dekat sang gadis. Pesona yang dipancarkannya sungguh menyentuh, sampai kedalaman dasar lubuk hati siapa pun yang melihatnya.

“Dia menangis” ucap Kino tertegun.

“(Akhirnya aku bisa bertemu denganmu.. Kino)” sebut sang gadis di dalam hatinya kepada orang yang dia kagumi sejak 10 tahun yang lalu dan kini orang tersebut berada di depannya, memerhatikanku memainkan alat musik ini.

“Uhuk.. uhuk… Aku meniupnya terlalu keras. Uhm..” ucap sang gadis sambil menyeka air matanya.

“Kakak burungnya tidak datang” seru ke dua orang anak kecil yang bersama sang gadis. Ada 3 anak kecil yang menemani gadis tersebut.

“Huh? Aneh.” Ungkap sang gadis.

“Kalo gak make seruling, gak bakalan datang.” Ucap bocah 1(laki-laki).

“Maksudmu terompet.” Ucap bocah 2(perempuan).

“Yang benar memakai pianika.” Ucap bocah 3(laki-laki) sambil menunjuk pianika yang di pegang sang gadis.

“Batasan, ras, ekologi, itu semua tak ada hubungannya dengan musik. Ayo kita bermain bersama-sama!” seru sang gadis sambil mengepalkan tangannya.

“Whoaa.. Ayo!” seru ketiga bocah tersebut.

*Peep~*.. *Peep~*… *Peep~*…. terdengar musik yang sama seperti yang dimainkan sang gadis sebelumnya sekali lagi. Mereka berempat memainkan alat musik mereka bersama-sama.

Kino memperhatikan mereka sambil tersenyum. “Mereka terlihat menikmatinya sekali.” Kino pun mengeluarkan ponselnya untuk memotret mereka.

Burung-burung berdatangan sesudah permainan mereka selesai. Mereka tampak senang dan tertawa bersama-sama. Tiba-tiba angin kencang berhembus.. Cahaya flash camera ponsel Kino menyala *Cklik*.

“Ini angin musim panas pertama!” ucap seorang bocah laki-laki.

“Uh.. Uwah.. Hah?!” sang gadis segera memegang roknya dan menatap ke Kino yang sedang memegang ponselnya memotret mereka.

“Uh?!..” Kino kaget dengan hasil jepretannya.

“Sialan!” Sambil melempar pianikanya ke wajah Kino. “Bodoh! Bodoh! Aku tidak bisa menikah lagi!” memukul Kino dengan kencang.

“Maaf! Ini hanya kebetulan saja. Jangan menggunakan alat musik sebagai senjatamu!” seru Kino panik dan kesakitan karena dipukuli.

“Dasar kamera pengintip! Kau takkan kumaafkan, dasar cabul!”

“Sudah kubilang, hanya kebetulan saja, kan? Siapa juga yang mengincarmu …” tegas Kino.

“Dasar pembohong”

“Apa?”

“Apaan sih?”

Di tempat lain.

“Hmpt, mereka tidak ada. Apa mereka menunggu di tempat yang salah ya?” ucap Lia sambil berjalan mengelilingi taman. “Aha! Lean! “

“Hei, Lean!” panggil Lia ke sang gadis yang ternyata bernama Lean.

“Lia!”

Skip

“Jadi orang ini musisi yang mau kau kenalkan padaku? Dia kan cabul.” Seru Lean.

“Aku gak cabul ya!” bentak Kino.

“Sudah.. sudah.. Kino gak cabul Lean, mungkin di sini ada sedikit kesalah-pahaman. Itu saja.” Ungkap Lia.

“Eh?! Begitu ya? Maaf Kino” Lean meminta maaf.

“Huft.. Syukurlah. Gak masalah Lean” Kino akhirnya bisa lega.

“Uh, kalau begitu biar ku perkenalkan, dia adalah teman sekelasku, Lean.” Sebut Lia.

“Salam kenal”

“Lalu, dia adalah Kino. Sahabat masa kecilku sampai sekarang. Seorang musisi violin.” Lia memperkenalkan sahabatnya.

“Salam kenal ya.” Ucap Lean.

“Sama-sama” balas Kino.

“Ah.. Sudah saatnya aku tampil! Aku harus pergi ke sana sekarang” ungkap Lean.

“Kesana? Kemana?” tanya Kino.

“Di sana.” Tunjuk Lia ke sebuah bangunan.

“Bukankah itu ..” ucap Kino yang kemudian dipotong Lean.

“Aula Harmoni Musik. Hari ini aku akan tampil di sana. Aku seorang Pianis.” Ungkap Lean.

Kino tertegun melihatnya.

“Ayo, Kino.” Panggil Lia.

“Ahh?! Aku … tidak usah ikut.” Ucap Kino.

Lean menggenggam tangannya dan tersenyum. “Kau harus ikut.” Kemudian menariknya berlari..

‘musim panas di umurku yang ke 15 tahun. Aku … Aku pergi bersamamu.’

***

XIII

Jatuh Cinta di Sekolah Baru

Aku Renata, hari ini aku pindah ke sekolah baruku karena pekerjaan orangtuaku. Hobiku menulis, karena pas kecil aku sempat tinggal bersama om ku yang merupakan wartawan dan juga penulis buku. Aku banyak belajar dari om-ku tentang dunia menulis, aku sangat menghormatinya. Om ku namanya Brian, dia tinggal di Surabaya dan kini aku tinggal di Manado bersama kedua orangtua-ku. 

Di hari pertamaku sekolah, kelas dua sekarang, aku mendapat banyak teman baru yang asik. Aku pun diajak berkeliling sekolah dengan beberapa teman baruku. Sebut saja Nia, Mikha dan Kirana yang saat itu bersama denganku berkeliling sekolah. Beberapa hari kemudian aku ikut bergabung dengan klub Jurnalistik di sekolah-ku. Saat pertama kali mau bergabung, aku diuji oleh ketua klub dan hasilnya sukses. Ini semua berkat om Brian yang mengajariku dunia menulis dan jurnalistik. 

Seminggu kemudian, klub Jurnalistik SMA Negeri 1 Manado membuat project Majalah akhir tahun, untuk bahan materi kepenulisan aku ditunjuk bersama Rifky rekan se-klub-ku untuk mewawancarai anggota klub basket sebagai bahan materi berita olah raga favorit di sekolah-ku. Kebetulan juga disaat yang sama, klub basket SMA Negeri 1 akan mengikuti turnamen tingkat Provinsi antar sekolah yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Beryukur aku Renata jadi punya bahan yang keren buat dijadikan bahan tulisan untuk majalah akhir tahun SMA Negeri 1.

Akhirnya saat itu, aku bertemu dengannya. Pria yang membuat jantungku berdegub kencang, pria muda yang membuat aku terdiam terpesona oleh kegagahan dirinya, kharisma yang dimiliki olehnya membuatku melupakan alasanku yang harusnya datang untuk mewawancarainya. Semenjak itu aku pun mulai mendekatinya, aku ingin lebih dekat dengannya. Aku pun akhirnya sukses membuat artikel olah raga bola basket di sekolah. Tanpa disadari aku juga menulis diary-ku di blog pribadiku. Untungnya blog pribadi-ku menggunakan nama pena-ku “Miss Dreaming” dengan nama blog, missdreaming97.com, jadi tak ada yang tau tentang identitas penulis missdreaming97.com, kecuali om-ku Brian.

Malam itu, om ku meledek-ku via telegram tentang tulisan diary-ku yang menyatakan perasaanku yang jatuh cinta pada seorang pemain basket dari sekolah-ku.  Pria tersebut namanya Hugo. Sosok pria tinggi sekitar 174 cm, putih, rambut hitam pendek yang digunting ala tantara dan mata cokelatnya yang indah.

Saat ini aku hanya bisa menyukainya dalam diam, sesaat om-ku terus meledek tulisanku dan berkata untuk mengungkapkan saja perasaanku padanya. Tapi kan aku wanita, mana mau aku duluan yang menyatakan perasaan. Om-ku malah berkata, “Sekarang jamanya emansipasi wanita, yang menembak seseorang yang disuka bukan hanya kaum pria saja, tapi wanita pun berhak mengutarakan perasaannya. Kamu ini anak milenial tapi berlagak seperti kidz jaman old. Hadeh….” Ucap om-ku.

Akhirnya ke-esokan harinya di sekolah aku pun menemui pria yang bernama Hugo itu, kapten basket di sekolahku. Aku mengutarakan perasaanku padanya.

***

XIV

Ditolak

Saat itu aku pindah dari Jakarta ke Luwuk, Sulawesi Tengah. Setelah lulus Sekolah menengah, awalnya saya kerja dulu. Pernah jadi guru di homeschooling, operator desain grafis di tempat percetakan, terakhir bekerja di sebuah perusahaan pialang sebagai Business Consultant, dan dari ke tiga tempat kerja itu, aku memilih resign karena beberapa alasan. Sampai akhirnya aku pindah ke Luwuk untuk memulai usaha bersama dengan keluarga atau orangtua ku. Karena di Luwuk kami punya rumah sendiri, Papa dan Mamaku yang baru pindah juga dari Jakarta dan memulai usaha Rumah Makan yang diberi nama Kedai RPM, mengajakku untuk membuka jasa desain grafis di rumah, agar usahanya beragam selain itu juga dari segi pasar, usaha desain grafis di Luwuk ini juga cukup menguntungkan.

Sampai suatu ketika disaat ulang tahunku pada 28 Agustus, kakakku yang bekerja di Jakarta menanyakan padaku ingin hadiah ulang tahun apa. Aku pun berkata bahwa aku menginginkan pentab, kupikir dengan adanya pentab, bisa membantu usaha desain grafis yang kujalankan. Namun ternyata kakakku menawarkan sesuatu yang memang ku inginkan. Yakni dia berkata, “Mau dibelikan pentab apa kakak biayakan untuk kuliah?” ucap kakakku. Tanpa pikir panjang, jelas aku langsung setuju untuk memilih kuliah. Aku pun segera menyiapkan segalanya untuk bisa masuk kuliah, setelah empat tahun lulus SMA, bekerja dulu dan akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk berkuliah. Karena diusia-ku saat itu, bahkan temanku sudah ada yang mulai melanjutkan kuliahnya sampai ke tahap S2.

Akhirnya aku pun bisa berkuliah, dan aku masuk di AMIK Nurmal Luwuk Banggai. Walau hanya sampai D3 untuk saat ini, karena jurusan yang kumasuki cuman ada sampai D3 dibidang Manajemen Informatika yang berkaitan dengan computer. Dan walau ada tiga kampus di kota Luwuk ini, namun hanya AMIK Nurmal yang menyediakan jurusan Komputer untuk saat itu. Jadi yasudah aku-pun masuk AMIK Nurmal.

Saat itu pas masuk kuliah, aku tidak sempat ikut ORMIK atau Orientasi Akademik. Jadi belum dapat sertifikat ORMIK dan mesti mengikuti hal tersebut tahun depan, karena dengan adanya Sertifikat ORMIK ini yang menentukan kita bisa ikut LDK atau Latihan Dasar Kepemimpinan. Dan apabila tidak ada sertifikat ORMIK dan LDK maka tidak bisa ikut Pelatihan Kerja Lapangan. Maka dari itu pada tahun depan, aku memutuskan untuk harus segera mengikuti kedua hal tersebut.

Setelah memulai kuliah, aku pun bertemu dengan seorang wanita yang cantik. Tentunya kami sama-sama Mahasiswa baru di kampus AMIK Nurmal ini. Oleh teman-teman sekelompok di Semester 1 saat itu, aku dipanggil kakak, karena usiaku yang lebih tua. Kembali lagi, setelah memperhatikan wanita cantik yang sekelompok denganku itu, aku mulai menyukainya. Ya, dia termasuk tipe-ku. Senyumannya begitu manis dan membuatku terus membayangkan sosoknya yang menarik. Sepertinya aku benar-benar terpesona padanya. Wanita tersebut menggunakan hijab sebut saja dia, RS. Ya dia menggunakan hijab yang berarti dia adalah seorang muslim, sedangkan aku seorang Kristen. Dimana diagama-ku sebenarnya tidak diizinkan untuk menikah dengan orang beda Agama. Namun bagaimana lagi, aku telah jatuh hati padanya. Dan rasa ini sulit untuk dihilangkan. Sampai suatu waktu, ditanggal yang cantic ketika itu. Aku memberanikan diri untuk menembaknya. Sayangnya dia menolakku, yang kuingat, alasan utamanya karena kita beda Agama dan dia juga sepertinya tidak mau berpacaran. Seandainya Agama Cuma ada satu, aku pasti akan menikahinya. Namun, setelah ditolak entah kenapa aku malah tambah sayang padanya. Akan tetapi aku juga bersyukur tidak diterima, karena setelah aku merenung, berhubungan dengan perbedaan Agama, pastinya akan menyulitkan suatu saat nanti.

Ya, cinta itu rumit. Cinta kuat seperti maut. Dan perih saat cinta itu hancur.

Di kampus, setelah ditolaknya, tak mengapa, tapi kami tetap bisa akrab sebagai teman.

Bahkan setelah satu tahun kemudian, dimana akhirnya aku mengikuti ORMIK sebagai kambing tua, istilah di kampusku daerah Luwuk. Dan ternyata si RS jadi salah satu panitianya. Ketika momen diminta oleh kakak-kakak panitia saat itu untuk menggambar salah satu kakak panitianya, jelas yang ku gambar adalah wajah si doi, RS.

Entah kenapa meski sudah cukup lama, aku masih menyukainya. Namun kupikir aku mau mencari calon jodoh mahasiswa baru kala itu, namun ternyata tak ada yang sesuai tipeku.

Meski begitu aku tetap berusaha move-on dan menjalani hari-hari berkuliah-ku di kota Luwuk ini.

Aku yakin Tuhan sudah mengatur jodohku.

Walau aku ditolak, dan meski aku masih tetap menyukainya. Namun bila belum jodoh, aku bisa apa? Aku tau, Tuhan sudah menyediakan yang sepadan untukku.

Entah kapan jodohku akan datang. Haha….

***

XV

Kencan Pertama

Kemarin aku baru berpacaran dengan pria yang ku sukai. Oh iya, perkenalkan namaku Mita. Aku mahasiswa baru di Universitas Meikarta. Dan pria yang ku sukai itu ketua kelompok di tempat aku berkuliah. Jadi kami seruangan dan sejurusan tentunya. Awal-awal kami pacaran terasa sungguh indah. Chattingan bareng saat pulang kuliah, dan selalu bersama saat kuliah. Namun sampai saat ini kami belum pernah berkencan sama sekali, lebih parahnya kami belum pernah berciuman sama sekali! Kalau untuk ciuman sih gak masalah belum pernah, karena dia memintaku untuk berpacaran sehat. Namun masa mengajak ku kencan, makan di luar atau menonton film di Bioskop atau apapun itu yang berhubungan dengan kencan, dia belum pernah. Akhirnya akupun yang berinisiatif untuk mengajaknya jalan untuk berkencan.

Sayangnya saat itu dia tiba-tiba sakit dan di rawat di rumah sakit selama seminggu. Aku sedikit kecewa sebenarnya. Namun aku terus datang ke rumah sakit untuk menjenguknya dan bertemu keluarganya. Ternyata Ibu dan Ayahnya sangat baik dan mendukung hubungan kami. Keluarganya dia juga ternyata begitu Agamawi.

Sampai akhirnya pacarku itu, sebut saja Niko, sudah sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Niko-pun mengajakku berkencan.

Aku sempat kaget.

Kencan pertama kami, beribadah youth di Gereja. Tapi entah kenapa aku begitu terharu, karena dia membawaku lebih dekat untuk berhubungan dengan Tuhan. Dan dasar hubungan kami berdasarkan kasih dan kekudusan kepada sang Pencipta.

***

XVI

Momen di Orientasi Akademik

Aku mahasiswa baru di Unhar (Universitas Harapan). Ketika awal Pra-Ormik di Unhar, aku berkenalan dengan seorang pria yang menarik. Dan kini dia menjadi pacarku. Selama beberapa hari mengikuti ormik dan besoknya akan diadakan penutupan Ormik. Jujur rasanya sungguh melelahkan, akan tetapi aku tetap bertahan. Apalagi ini sudah mau selesai. Besok Ormik akan segera berakhir.

Keesokan harinya, kami datang jam 5 pagi kurang. Karena batas berkumpul di hari terakhir Ormik ini adalah jam 5. Tapia da saja beberapa mahasiswa baru yang masih terlambat. Tentunya mereka diberi hukuman ringan.

Setelah beberapa jam di kampus. Kami pun berangkat ke sebuah Villa yang ada sungainya. Kami mengadakan kegiatan akhir Ormik di sana. Awalnya masih biasa saja. Sampai akhirnya suatu Insiden terjadi. Sungguh saat itu aku menangis histeris, tak menyangka.

Pada saat yang ditunggu-tunggu, Ormik akhirnya ditutup. Dan Direktur Kampus kami yang datang memberikan sambutan penutupan, akhirnya memberikan Sertifikat Ormik kepada 3 Mahasiswa baru sebagai symbol bahwa kami telah diterima menjadi Mahasiswa baru di Universitas Harapan.

Namun, tiba-tiba salah satu kakak Panitia datang marah-marah, merebut sertifikat Ormik yang diberikan kepada 3 Mahasiswa yang diminta sebagai perwakilan dan merobek ke tiga sertifikat tersebut. Acara saat itu pun ricuh, karena sesama Panitia saling marah dan akhirnya pun berkelahi. Ternyata hal tersebut dikarenakan, ada Mahasiswa baru yang membawa obat-obatan terlarang Narkoba berupa Shabu-shabu.

Para panitia bertengkar karena hal tersebut dan meminta dengan tegas siapa yang membawa barang haram tersebut. Karena hal tersebut bahkan beberapa panitia berkata untuk membatalkan penyerahan sertifikat Ormik ini. Kacau! Pak Direktur yang ada pun meminta dengan tegas agar para panitia dan semua calon mahasiswa baru untuk tenang dan membicarakan hal ini dengan kepala dingin. Pak Direktur Unhar sungguh kecewa dengan apa yang telah terjadi. Dan akhirnya menanyakan kejadian rinci bagaimana bisa barang haram tersebut bisa ditemukan.

Ternyata saat sebelum berangkat ke Villa untuk penutupan Ormik dimana kami yang diminta untuk Bakti Sosial, ternyata ada calon mahasiswa baru yang menggunakan Narkoba dan membiarkan Narkoba tersebut tercecer di Lanitai 3. Sedang saat itu aku berada di lantai dasar, bersih-bersih di sana.

Pak Direktur Unhar pun meminta semua calon Mahasiswa baru yang berada di lantai 3 untuk maju ke depan. Ditanyai lah semua satu-satu dan semua bersumpah tidak membawa barang haram tersebut. Sampai tiba pada pacar saya Riko, dan dia mengaku telah membawa Narkoba tersebut. Suasana pun mejadi ricuh kembali karena kakak-kakak panitia sungguh marah, karena apa yang dilakukan pacarku membuat para panitia sebelumnya sempat bertengkar. Dan tentunya apabila dibiarkan hal ini bisa merusak nama baik kampus.

Sungguh saat itu aku sangat kecewa dan sedih. Pria yang ku sayangi ternyata orang yang seperti itu. Menggunakan barang haram Narkoba. Rasanya saat itu aku seperti dikhianati.

Namun.

Saat suasana sedang ricuh. Para panitia menyuruh kami semua calon mahasiswa baru untuk melepas papan nama yang kami kenakan. Dan berkata, “INI HANYA AKTING, KALIAN SUDAH JADI MAHASISWA BARU! ORMIK SELESAI! HIDUP MAHASISWA!”. Semua pun bersorak terharu dan berteriak bersama-sama, “Hidup Mahasiswa!”.

Sungguh aku begitu lega, karena pria yang kusayangi ternyata tak seperti yang ku kira. Kami pun menari bersama di sana. Membentuk lingkaran sambil bergenggaman tangan dan menari. Aku memegang erat tangan pacarku Riko. Raut wajah kami saat itu begitu bahagia, setelah merasa cukup pusing dengan Ormik pada awalnya, akan tetapi dihari terakhir ini begitu membuat suasana hati kami lega dan hubungan kami dengan kakak-kakak senior begitu erat dan akrab.

Lalu pak Direktur kami yang kala itu juga menari bersama kami, berkata pada semua mahasiswa baru untuk melakukan pembalasan. Karena saat itu kakak-kakak panitia menari membentuk lingkaran di tengah-tengah dan kami menari membentuk lingkaran di luar, pak Direktur pun berkata, “Kalau pak berteriak pembalasan, Tarik kakak panitia dan lempar ke sungai”. Sungguh pak Direktur yang hebat pikirku. For you information, Sungainya tidak dalam, jadi aman.

Kami pun menari terus bersama-sama.

Sampai tibalah pak Direktur berteriak, “Pembalasan”.

Kami pun menyerbuh kakak-kakak panitia dan melempar semua ke sungai. Dan kami pun berenang bersama-sama ke sungai. Yang lainnya kembali ke darat dan menari bersama-sama. Sungguh momen yang indah. Aku dan pacarku resmi jadi mahasiswa baru di kampus kami, Universitas Harapan. 🙂 

***

XVII

Will You Be My Lover

Saat itu aku masih SMA kelas satu. Dan aku adalah gamer. Aku bermain game online Internasional bernama Audition World yang baru rilis ketika aku baru menjadi murid SMA.

Ketika bermain game tersebut, aku berkenalan dengan seorang gamer wanita yang nantinya menjadi pacarku. Meskipun kami berbeda negara.

Aku pun berkenalan dengan Eunice, nama cewek tersebut. Kami kemudian berteman di Facebook. Setelah berteman tersebut, kami pun saling chatting berdua. Alhasil, kami pun menjadi dekat dan memutuskan untuk berpacaran. Dia orang Filipina dan aku Indonesia. Untuk mengatasi perbedaan Bahasa, kami menggunkan Bahasa Internasional untuk bercakap, yakni Bahasa Inggris. Terkadang kalau aku tak tau arti dari bahasaku ke Bahasa Inggris, aku menggunakan Google Translate untuk membantuku mengungkapkan apa yang ingin ku utarakan padanya.

Selama satu bulan pacaran, dia tiba-tiba meminta putus. Alasannya karena dia tidak bisa berhubungan LDR(Long Distance Relationship). Jujur aku kecewa. Dan kami pun putus dan dia tak pernah aktif di facebook lagi juga tak pernah kelihatan online lagi di Audition World.

4 tahun kemudian, aku pergi kuliah ke Filipina.

Di sana aku kuliah Informasi Teknologi. Seminggu kuliah, saat ingin ke Mall, aku melihat seorang wanita yang sepertinya ku kenal. Ya, dia mirip dengan Eunice yang dulu menjadi pacarku lewat media online. Aku pun berlari mengejarnya. Wanita tersebut sempat kaget. Dan ternyata benar, dia Eunice yang ku kenal.

Kami pun mengobrol bersama di Starbucks. Dan sekali lagi aku berkata, meski kini beda, dulu aku menembaknya lewat chattingan di Messenger Facebook dan kini aku berkata langsung padanya.

“Will you be my lover?”

***

XVIII

Wish Come True

Menggendarai sepeda motor maticku, aku segera menuju ke tempat sahabat baikku Erlan. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan kepadaku. Aku jadi penasaran apa itu?.

Dalam perjalanan pikiranku terus melayang. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Erlan hari ini, tak biasanya juga dia menghubungiku untuk mendatangi apartemennya jam segini. Apa dia gak bisa menunggu sampai besok? Sekarang kan sudah mau jam 10 malam. Apa dia mau membuatku menginap di rumahnya?

“Sih bodoh itu.. Apa sih yang ada dipikirannya menyuruhku datang ke kediamannya jam segini. Meskipun dia sahabat baikku dan orang yang paling aku cintai (meskipun aku tak pernah memberitahukannya hal tersebut ‘tentang cintaku’). Tapi apa dia pikir bagus membuat gadis manis sepertiku datang ke tempatnya sendirian, malam-malam begini?”

“Apa dia mau berbuat hal-hal yang aneh-aneh nanti kepadaku? *blushing* Tidak.. tidak.. tidak.. Erlan bukan orang yang seperti itu. Ahkh.. Semakin ku berpikir tentang itu, aku semakin pusing. Lagipula dia bilang ada hal penting yang harus dia sampaikan. Aku harus percaya padanya…”

‘Tapi.. tapi.. Kalau dia bilang dia mencintaiku. Ehehehe… Tanpa basa-basi aku akan langsung menjawab, YA Lalan(panggilan akrab Erlan dari Anna), aku juga mencintaimu. Menarik kepalanya dan *censored*:p’ khayal Anna di dalam pikiran nakalnya. ‘Kyaaaa~ itu pasti akan jadi malam yang panjang dan sangat romantis antara kami berdua :3 fufufu~’

Terlarut dalam khayalan erotisnya, Anna segera tersadar dan kembali fokus ke jalanan, mengerem motornya karena lampu merah di depannya.

“Hmm.. sebentar lagi aku akan segera tiba di tempat Lalan dan mengetahui apa yang mau dia sampaikan…”

Lampu Hijau. Anna kembali menarik gas motornya. Tiba-tiba…

Zreeedddd…… Bruakkkkk… Darrr. !!!!!!!

|

|

|

Ting.. Nung.. Ting.. Nung.. Ting.. Nung.. Ting.. ~~~~

Bekas lokasi kejadian kecelakaan memperlihatkan tumpahan banyak darah di satu tempat di jalan raya tersebut. Tempat tumpahan darah yang paling banyak di jalan tersebut adalah tempat dimana Anna tergelak tadinya akibat kecelakaan tersebut.

Anna Soul, “Are.. dimana aku sekarang. Apa yang terjadi barusan? Eh~ itu. Itu kan diriku? Tubuhku? Lantas aku ini sekarang apa? Haaaahhh??!!! Apa aku sekarang sudah mati? Ah.. Tidak… Tidak… aku bahkan belum sempat mendengar apa yang mau disampaikan Erlan. Aku bahkan belum jujur menyatakan perasaan terpendamku kepadanya. Aku bahkan belum merayakan ultahku yang ke 26 yang tinggal 5 hari lagi. Oh Tuhan bagaimana ini? *crying baby*”

Tiba-tiba cahaya misterius muncul di depannya. Keadaan lingkungan berubah seketika.

“Hah.. Dimana aku sekarang? *panik*” Anna memperhatikan keadaan sekitar, sesuatu yang baru pertama kali iya saksikan. Tempat yang jauh berbeda dari dunia tempat ia hidup.

Seseorang kemudian muncul dihadapannya.

“Anna.. Selamat datang di ‘Tahap Pertama Alam Baka’. Disini adalah tempat pertama yang akan menentukanmu menuju surga atau neraka. Perkenalkan, aku adalah Shinigami (Dewa Kematian) yang ditugaskan untuk menginvestigasimu. Myo, panggil saja aku Shinigami Myo.”

Anna facepalm sambil mangap.

‘Tahap pertama alam baka?.. Investigasi? Orang ini ngomong apaan sih?’ Anna merasa dibodohi. ‘aku pasti lagi mimpikan..? aku pasti lagi mimpi, semoga ini hanya mimpi aneh belaka ..’

Belum sempat mencubit pipinya, omongan Anna dalam hati dipotong sang Shinigami.

“Ehem.. Anna kau tidak sedang bermimpi. Dan kau tidak sedang dibodohi!” Sang Shinigami mencoba menyadarkan Anna.

“Haaaahhh….” melongo. ‘dia tau apa yang sedang aku pikirkan?’

Skip

‘Jadi aku sudah mati ya? Fuh~’ mendesah kecewa dengan sedikit air mata keluar dimatanya. Entah kenapa pikirannya saat itu tertuju pada Erlan. Walau kini dalam wujud jiwa, entah kenapa dia bisa merasakan hatinya mulai terasa sakit menerima kenyataan pahit tersebut. Dia sendainya bisa mengulang waktu, sepertinya dia ingin kembali sebelum kematiannya dan menyatakan perasaannya yang sebenarnya terhadap Erlan, sebelum akhirnya dia dipanggil Tuhan, setidaknya dengan begitu pikirnya dia bisa merasa jauh lebih lega dan bahagia.

“Baiklah kalau begitu ada permintaan terakhir? Bila memungkinkan, maka akan aku kabulkan. Ini adalah penawaran spesial yang diberikan khusus untukmu dari para atasanku dan sudah disetujui God (entah kenapa memakai kata God untuk ‘Tuhan, Dewa, atau Allah’ dalam kalimat ini terasa jauh lebih sopan ). Mengingat kau juga sudah disetujui akan diterima ke surga. Dia (atasanku) memberitahukan hal ini melalui telepati. …. Hahaha… Kau sungguh beruntung nak. Kalau begitu apa permintaanmu?”

“Eh? Benarkah?” Anna tampak tak percaya namun sungguh bahagia mendengarnya.

“Ya” jawab singkat Shinigami Myo.

Tanpa pikir panjang dua kali Anna langsung menjawab.

“Kalau begitu permintaanku adalah ….”

Skip

Anna membuka matanya perlahan.

“Dimana aku sekarang? … Apa yang terjadi?”

Mencoba bangun untuk duduk bersandar.

“…Akh~ Perutku sakit..”

Disaat yang bersama Erlan masuk ke dalam ruang tempat Anna dirawat.

“Ah.. Aan(panggilan akrab Anna dari Erlan) kau sudah sadar. Eh?! Jangan bergerak dulu.., biar aku yang menaikan posisi tempat tidurmu. Tak perlu berusaha untuk duduk, soalnya perutmu masih belum begitu lama selesai dioperasi, jadi sebaiknya kau tetap tiduran saja dulu. Oke.”

Erlan memutar pegangan (apa ya istilahnya? Lupa) untuk menaikan setengah bagian tempat tidurnya Anna agar Anna bisa tiduran dalam posisi yang memudahkan Anna untuk melihat keadaan sekitar ruangan.

“Hmm.. begini sudah pas kan?” tersenyum kepada Anna. “Syukurlah kau bisa kembali sadar. .. aku.. aku pikir …” Erlan mulai meneteskan air matanya, Erlan mendadak ‘pecah’ menangis.

“Maafin aku Aan, semua ini salahku. Gara-gara aku, gara-gara keegoisanku, kau jadi terluka parah. Kau mengalami kecelakaan karena salahku. Maafkan aku.. *Cry* Maafkan aku.. Aku pikir aku akan kehilanganmu selamanya, aku kira kau akan mati dan meninggalkan aku selamanya. *Cry* *Cry* Aku sungguh takut kehilanganmu Aan, Aku sungguh merasa bersalah. Aku sungguh takut dan menyesal. …. Maafkan aku Anna, maaf …” Erlan menangis sejadi-jadinya.

Anna terharu dan membelai kepala Erlan.

“Sudah jangan menangis lagi Lalan. Ini bukan salahmu.. Lagipula aku akan baik-baik saja”

Erlan menatap Anna dengan tatapan sedih dan bersalah. Sedang Anna memberikan senyum manisnya dengan tulus sambil memegang pipi kiri Erlan.

“Udah hapus air matamu. Anak laki-laki kok cengeng. Hmph. Apa perlu aku yang menyeka air matamu? Dasar Erlan manja..”

Erlan kemudian tersenyum lalu..

“Gak usah, aku bisa menyeka air mataku sendiri ..” menyeka air matanya, kemudian menarik nafas dan menghembuskannya. *Phew* …. “Yang penting sekarang kamu sudah kembali sadar. Aku sangat senang. Syukurlah… Terima kasih Tuhan..”

Erlan mencoba menguatkan hatinya dari perasaan bersalah, namun mendengar kata-kata sahabatnya barusan sungguh membuat perasaan Erlan jauh lebih lega dan bersyukur karena Anna tampak baik-baik saja. Meski begitu Erlan tetap sedih melihat keadaan Anna.

“Oh iya, ini hari apa? ..tanggal berapa?”

Anna mengalihkan pembicaraan ketika dia mula teringat sekilas tentang kejadian saat bertemu sang Shinigami bernama Myo.

“Ini hari Kamis, tanggal 30 Juli 2015..”

“Berarti besok ulang tahunku ya?”

Anna bertanya sambil menunjukkan senyuman pahit(?) di wajahnya.

“Iya..” jawab singkat Erlan dengan senyuman balasan. Namun melihat senyuman Anna yang seperti itu, Erlan merasakan sesuatu yang mengganjal.

Mendengar jawaban singkat Erlan, sedikit jeda, Anna kemudian langung menyambung ucapannya.

“Kalau begitu, bisakah aku memintamu menghabiskan 1 hari penuh ulang tahunku bersamaku di sini besok?”

“Tanpa kau memintanya, aku akan melakukannya” Erlan sedikit jengkel mendengar ucapan aneh sahabatnya.

“24 jam ya”

“Iya……”

“Syukurlah.. makasih ya”

‘aneh kenapa Aan berbicara seperti ini? Entah kenapa seperti … Ah.. Tidak.. Tidak.. aku harus berpikiran positif. Aan pasti akan baik-baik saja.’ Erlan merenung dalam hati pikirannya sesaat.

“Oh iya, ngomong-ngomong, apa perlu aku belikan kue ulang tahun untukmu? Mengingat kau belum bisa makan secara bebas karena kondisimu, aku jadi ragu untuk membelinya. …”

“Kau sungguh tidak romantis Erlan. Hmph.. Masa masalah seperti itu kau tanyakan padaku, setidaknya kau berusaha untuk memberikanku sebuah kejutan. Bukannya malah mendiskusikannya denganku hal yang seharusnya menjadi surprise. Lalan bodoh. Bodoh, bodoh, bodoh..”

Anna bersikap kecewa dengan terang-terangan seperti anak kecil terhadap sikap tidak pekanya Erlan.

“Ah.. Maaf. ..Aduh… Lalan kenapa kau begitu bodoh sih, masakan hal seperti itu aja kamu gak nyadar. Harus diajarin berapa kali sih? Hehehe…”

Erlan meminta maaf sambil mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.

“Dasar…” Anna tetap cemberut melihat tingkah bodoh sahabatnya.

“Jangan cembeyut gitu dong. Smile, smile.. biar tambah cakep”

Erlan berusaha merayu Anna agar tersenyum.

“Gak ah.. aku dah terlanjur bete. Hmph..”

Anna mencoba tetap gigih dengan pendiriannya.

“Tapi.. tapi, meskipun cemberut gitu, Anna malah kelihatan lebih manis loh!”

“Ihh.. apaan sih, Erlan becandanya gak lucu ah..” pipi Anna memerah mendengar rayuannya Erlan. Anna lalu mengembungkan pipinya.

Rayuan Erlan sukses. (^w~)v

“Ihh.. sih tembem imut bener deh.., tapi ini beneran kok. Anna kalo cemberut kelitahan manis, tapi kalo senyum pasti kelihatan jauh lebih cakep lagi!”

“Mulai deh.. mulai deh.. dasar raja gombal. …” “Nih… Nih…!!” menunjukan ekspresi senyum paksa terhadap Erlan. “Puas.. Puas!! Huu~”

“Nah gitu dong. Kan cakep kalo senyum ..”

“Hmph..”

“Lebih cakep lagi kalo senyumnya lebih natural..”

“Udah ahh.. Lalan daritadi banyak maunya.. Capek nih, udah aus juga. Mau minum jus alpukat. Beliin dong ayang Lalan.”

Anna menghentikan guyonan mereka berdua dan menyatakan permintaan tenggorokannya yang sudah kering ingin meminum jus favoritnya.

“Oh.. ayang Aan udah aus toh daritadi. Kenapa gak langsung ngomong aja sih, biar kang Lalan langsung pesenin?..”

“Auh..ah.. kan tadi lagi ngobrol. ..Udah buru~ beliin”

“Iya..iya Permaisuri.” Erlan beranjak pergi untuk membelikan jus alpukat pesanan Anna.

“Ah~ Lan.. tunggu bentar. Ambilin Aqua yang itu dong deketin di sini, biar aku gampang ngambil minumnya. Sorry ya ngerepotin..”

“Iya woles…”

Erlan pun memindahkan Aquanya ke meja yang berada di samping Anna.

“Makasih ya ayang Lalan. ..tapi kok Lan, kok gak ada buahnya sih di sini? Biasa kan kalo orang lagi sakit di rumah sakit pasti ada buahnya kan? Kayak di sinetron mah drama di TV-TV!”

[Note: Anna belum pernah dirawat seperti ini sebelumnya dan juga tak pernah punya pengalaman sebelumnya mengunjungi rumah sakit. Jadi dia hanya menyimpulkan keadaan rumah sakit dari media masa yang dia saksikan entah dari TV, Internet atau apapun itu yang sejenis. –Kesimpulan: Anna adalah wanita yang memiliki fisik sehat dan terpaksa harus masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan dalam cerita ini. *this just fiction*]

-_- “kok sekarang jadi Aan yang banyak maunya sih. Korban sinetron mah drama TV nih kayaknya, pake disama-samain ama yang begituan. Hahaha.. ..Maaf deh An, soalnya aku sibuk ngawatirin sambil ngejaga kamu dari kemaren. Jadi gak sempet kepikiran buat beli buah-buahan. Semalam aja aku gak tidur loh gara-gara ngejagain kamu. Ntar ku beliin deh ya?”

Wajah Anna seketika memerah mendengar ucapan Erlan yang khawatir terhadap dirinya.

“Maaf… Makasih ya Lalan dah perhatian dan ngawatirin aku. Udah mau ngejagain aku..”

“Gak pa-pa kok. Kamu kan sahabat spesial aku satu-satunya ..”

Anna sedikit tersontak mendengar ucapan Erlan barusan.

“Lagipula kamu bisa masuk rumah sakit juga, karena termasuk kesalahan aku”

“Udah aku bilang kan tadi, itu bukan salah Lalan. Jangan diungkit lagi soal itu ya. ..Kalo gitu udah sana, beliin aku jus alpukat dulu. Cepetan ya yayang Lalan”

“Iya-iya.., nona besar.” Erlan pun beranjak pergi.

Seperginya Erlan, Anna merenung.

‘Sahabat ya? Iya.. Sampai saat ini aku kan hanya jadi sahabatmu saja, gak lebih. *Hiks* Apaan sih Anna, kamu mikirin apa? Kita cuman sahabatan gak lebih. …’ Anna meneteskan air matanya.

Sambil menunggu Erlan kembali, Anna mencoba menenangkan dirinya dan berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.

Disaat menunggu Anna teringat perjumpaannya dengan Shinigami Myo.

….

Seorang suster kemudian masuk untuk memeriksa keadaanku.

Skip

Setelah seorang Suster melihatku yang telah sadar, sang Suster menghubungi Dokter yang bertugas untuk merawatku (mencheck-up, memulihkan kondisiku, etc.). Sang dokter memeriksa dan berbicara banyak hal denganku tentang kondisiku.

Tak lama Erlan muncul sambil membawa Jus Alpukat pesananku. Erlan juga tampak sedang menikmati jus yang dia pesan, tampaknya itu jus melon dilihat dari warnanya. Lagipula tak salah lagi tebakan Anna, karena sahabatnya itu memang dari dulu diketahui menyukai jus melon. Alasannya karena menurut Erlan jus melon rasanya mirip dengan es campur yang suka dia pesan semasa remaja dan mengingat rasanya yang persis dengan jus melon, Erlan jadi termindset untuk lebih memilih jus melon dibanding dengan es campur disebabkan oleh harga jus melon yang jauh lebih murah. *Hahahah~*

[Sebenarnya soal jus alpukat dan jus melon, itu diambil dari kehidupan pribadi Author XD. Dimana jus alpukat merupakan jus favorit author, plus soal jus melonnya diambil dari pengalaman author yang menikmati rasa jus melon yang mirip rasa es campur. Dengan alasan itu auth jadi suka mesen jus melon selain jus alpukat terkadang. Dan bila ada penjual menjual jus melon dan es campur secara bersamaan, (mengingat pengalaman sebelumnya tentang rasa yang persis tersebut) author akan prefer ke jus melon dengan alasan simple harga yang lebih murah dan alasan rasa sebelumnya tadi. LOL. –Auth curhat(?) *maaf kalo note ini mengganggu pembacaan alur cerita. Silahkan kembali meneruskan membaca isi cerita.]

Erlan menghampiri Anna bersebelahan dengan sang dokter.

“Oh iya dok, kalo saya boleh minum jus alpukat boleh gak saat ini? Sama pantangan makanan yang gak boleh ku makan apa aja? Makanan apa aja yang bisa ku konsumsi saat ini?”

Anna mengajukan beberapa pertanyaan kepada sang dokter.

“Kamu nanya apa wawancara An? Satu-satu apa biar bu dokternya gak ribet jawabnya. Hahaha”

Erlan meledek Anna dengan sedikit bercanda. Anna hanya jadi sedikit malu dan berkata “apaan sih?”. Sedang sang dokter hanya tersenyum, memaklumi dengan tetap menjaga wibawanya di depan mereka.

Sang dokter pun mulai menjelaskan secara rincih mengenai pertanyaan dari sang pasien, Anna.

Skip

Petang ini Anna berada sendirian di kamar rumah sakit tempat dia dirawat. Erlan sendiri sedang keluar dengan alasan ada yang perlu dia urus di rumahnya. Anna sendiri sebenarnya sudah tau alasan Erlan pergi saat ini sebenarnya untuk mempersiapkan ulang tahunnya pada esok hari. Dan sesuai janji yang dia minta terhadap Erlan, Erlan harus menemani Anna di hari ulang tahunnya selama 24 jam dan itu berarti Anna hanya perlu menunggu Erlan tiba nanti pada pukul 12 (dua belas) tengah malam nanti.

Anna kembali teringat kejadian pertemuannya bersama sang Shinigami Myo.

Dalam flashbacknya tersebut tanpa sadar ia (Anna) sudah terlelap dalam tidurnya, namun dalam keadaan tidur tersebut pikiran Anna tetap tertuju pada ingatan flashbacknya tersebut yang terus berputar.

Anna FLASHBACK.

….

“Kalau begitu permintaanku adalah aku ingin bisa bersama Erlan dalam keadaan hidup di hari ulang tahunku yang ke 26 nanti.”

“Apa kau yakin?”

Shinigami Myo mencoba menanyakan kembali kepastian akan permintaan Anna. Belum memberikan kesempatan Anna untuk balas menjawab pertanyaannya, Shinigami Myo kembali melanjutkan ucapannya.

“Resiko membuatmu hidup kembali, meskipun kau tetap akan kembali mati setelah ulangtahunmu berakhir pada tanggal 1 Agustus 2015 nanti. Bila kau membuat kesalahan dalam sedikit waktu hidupmu nanti, kau bisa berakhir dengan mati menuju neraka!”

Shinigami Myo memperingatkan Anna sebuah resiko.

Anna tampak shock mendengarnya. Shinigami pun Myo melanjutkan.

“Jadi apakah kau akan tetap yakin dengan permintaanmu tersebut, atau kau mau mengubah permintaanmu tersebut?”

“Mmm~” Anna memberikan respon suara mmm menandakan dia sedang berpikir mengatasi permasalahan dari apa yang harus dia lakukan mengenai permintaannya tersebut.

Diam beberapa saaat dalam pikirannya dihadapan Shinigami Myo yang sabar menanti jawaban Anna tersebut, Anna pun siap dan memberikan respon yang pasti dari pertanyaan Shinigami Myo tersebut dengan penuh keyakinan.

“Keputusanku sudah bulat. Aku tetap pada permintaan awalku, aku yakin aku tidak akan melakukan kesalahan yang nantinya membuatku masuk ke dalam neraka.”

“Kenapa kau begitu yakin? Apa alasanmu ingin kembali hidup hanya untuk merayakan ulang tahunmu yang terakhir bersama pria yang bernama Erlan tersebut?”

Bersikap seakan tidak mengetahui perasaan Anna, Shinigami Myo mengajukan pertanyaan untuk mengkonfirmasi jawaban Anna.

“Aku hanya percaya saja. Lagipula alasanku sudah jelas karena aku sangat mencintai Erlan, setidaknya aku ingin dia tau perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Aku ingin merasakan akhir hidupku bersama orang yang ku cintai di hari spesialku yang tinggal beberapa hari lagi. Aku hanya ingin dia tau. Dengan begitu perasaanku akan jauh lebih lega. Ditambah ini satu-satunya kesempatan terakhirku untuk mengungkapkannya kepadanya!”

Mendengar hal tersebut Shinigami Myo sudah bisa menyimpulkan dan menerima konfirmasi dari atasannya mengenai jawaban terhadap permintaan Anna dan pernyataannya tersebut. Shinigami Myo pun menyatakan suaranya.

“Mendengar semua pernyataan dan kebulatan tekadmu terhadap permintaanmu, maka dengan ini dinyatakan bahwa permintaanmu diterima!”

Cahaya terang menyilaukan pemandangan Anna.

FLASHBACK End.

Disaat Anna terlelap Erlan sudah menyiapkan pesta ulangtahun terhadap Anna dengan menghias ruang rumah sakit dan mengumpulkan berbagai perabotan keperluan untuk ulang tahunnya, tentunya hal tersebut dengan persetujuan pihak rumah sakit.

Erlan sibuk mempersiapkan segala keperluan yang dikiranya penting untuk pesta ulangtahun Anna, dengan berusaha tetap menjaga agar Anna tidak tersadar disaat persiapannya tersebut. Tentunya Erlan mengetahui resiko Anna bisa bangun kapan saja ketika dia sedang mendekor ruangan tempat Anna dirawat, namun Erlan tak memperdulikan hal tersebut dengan tetap percaya dan melakukan yang terbaik sebisanya.

Persiapan pun telah selesai sebelum jam benar-benar menunjukan pukul 00.01.

Menunggu waktu yang terus berputar sebelum hari ulangtahun Anna. Erlan menatap Anna yang masih terlelap dalam tidurnya. Erlan menatap dengan penuh perasaan sayang. Erlan mengelus pipi kiri Anna dengan lembut, dengan tangan kanannya.

“Aan sayang.. sebenarnya aku sayang banget ama kamu. Perasaan sayang ini bukan sekedar perasaan sayang terhadap sahabat seperti dulu. Sebenarnya aku udah mulai jatuh cinta ama kamu sejak 3 tahun yang lalu. Namun aku tetap ngejaga perasaan ini tersimpan, karena aku terlalu takut dengan jawabanmu nantinya. Aku ingat waktu kita berusia 12 tahun dulu di panti asuhan, kita pernah berjanji untuk menjaga persahabatan kita selamanya, kita sendiri udah bersahabat sejak kita berusia 8 tahun. Karena hal tersebut aku jadi ragu dan takut kalo nantinya aku ngungkapin hal ini dan persahabatan yang udah kita jaga sampai saat ini malah hancur dan berakhir. Soalnya aku juga ingat kejadian saat umur 17 tahun dulu dan aku becanda bilang aku suka ama kamu dan kamu malah marah dan gak mau ngehubungin aku lagi selama beberapa minggu. Padahal aku udah sms ngejelasin kalo itu cuma becanda pas malam harinya di hari aku nyatain hal tersebut, tapi kamu tetep gak mau balas dan jawab sms maupun telpon dariku selama beberapa minggu. Sampai aku akhirnya datang ke rumah Nenek angkatmu, tempat kamu tinggal dulu. Dan semua masalahpun selesai. Tapi dari situ aku jadi nyadar kalau aku sebaiknya tetap ngejaga hubungan persahabatan kita ini. Akan tetapi gak mau memungkiri perasaan aku yang sebenarnya sejak 3 tahun lalu, aku sebenarnya maunya hubungan kita lebih dari sekedar sahabat An. Aku pengen kamu jadi someone yang jauh lebih spesial dari itu. Aku pengen kamu jadi kekasihku. Kekasihku seorang..”

Menyelesaikan pengakuannya tersebut disaat Anna masih tertidur, Erlan menggenggam tangan kiri Anna dengan kedua tangannya dan menciumnya. Erlan kemudian menyenderkan kepalanya ke tangan tersebut.

Selang beberapa menit menikmati perasaan nyaman tersebut. Erlan segera bersiap dan mengecek waktu di jam tangannya.

“7 menit lagi..”

Erlan segera berdiri, mengambil segelas Aqua dan menenggak air putih tersebut.

Erlan pun kemudian mempersiapkan Kamera Handycam untuk merekam prosesi momen disaat mereka merayakan ulangtahunnya Anna. Handycam tersebut ditaruh di depan tempat tidurnya Anna yang sedang dirawat, menggunakan tripod untuk menopang Handycam tersebut.

Kemudian Erlan menyalakan lilin berbentuk angka 26 tersebut.

Tinggal beberapa hitungan detik lagi dan Erlan akan menekan tombol record, video. Dan mulai menyanyikan lagu Happy Birthday sambil berusaha membangunkan Anna untuk melihat surprise dari Erlan, melihat wajah keterkejutan dan kebahagiaan dari Anna, mengucapkan selamat ulang tahun/happy birthday dan mendengar ucapan terima kasihnya, kemudian menunggu Anna membuat make a wish dan menyaksikan dia meniup kue ulang tahunnya dan sebagainya.

Itulah momen bahagia yang sebentar lagi Erlan tunggu.

Skip

Selesai dari flashback tersebut. Anna kemudian tersadar dalam dunia dimana dia bertemu dengan Shinigami Myo.

“Kenapa aku kembali kesini secepat ini? Permintaanku kan belum terwujud?”

Anna mengajukan protes kepada Shinigami Myo yang sudah ada di depannya.

“Tenang.. tenang.. hal ini bukan berarti bahwa permintaanmu tidak jadi dikabulkan. Sebentar, lihatlah ke sisi sebelah kanan!”

Shinigami Myo menjelaskan dan menunjukkan kepada Anna pemandangan bagaikan Layar Bioskop (sebenarnya mau bilang layar LCD ato proyektor yang buat nampilin gambar/presentasi/Video/etc. tersebut. Tapi gak jadi.) yang menampilkan tayangan dimana Erlan sedang mempersiapkan proses untuk perayaan ulang tahun dan tubuh Anna yang sedang tertidur pulas.

Dalam hati Anna berkata, ‘Bagaimana bisa? Bagaimanapun diperhatikan tubuhku masih tampak sedang bernafas’.

Anna menatap Shinigami Myo seketika.

Shinigami Myo hanya tersenyum ramah dan kemudian berkata.

“Inilah keajaiban Ilahi yang manusia biasa takkan pernah ketahui dan hanya beberapa orang terpilih saja yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Kau beruntung bisa melihat hal semacam ini Anna.”

“Sebaiknya kau perhatikan dengan seksama apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan tenang saja, kau akan kembali tersadar di dunia tepat pada pukul 00.01.” Shinigami Myo melanjutkan.

Anna pun tampak memperhatikan dengan serius. Anna tersenyum ketika melihat perjuangan Erlan yang tampak begitu bersungguh-sungguh.

Beberapa saat kemudian wajah Anna memerah, Anna lalu membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, mengekspresikan sikap keterkejutannya terhadap pernyataan Erlan mengenai perasaannya terhadap Anna selama ini. Anna seakan tak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan dari tampilan pemandangan dunia asalnya tersebut yang tampak dari dunia spirit ini. Namun terlepas dari bagaimana dia menyaksikan hal tersebut, Anna tak dapat memungkiri perasaan luar biasa bahagianya mengetahui sahabatnya Erlan yang ia cintai memiliki perasaan yang sama dengannya. Ya ternyata mereka berdua diam-diam memang memendam perasaan cinta satu sama lain.

Tenggelam dalam emosi bahagianya (Anna). Shinigami Myo kemudian mengucapkan kata perpisahan sekali lagi kepada Anna.

“Nah.. sudah waktunya kau kembali ke dunia manusia. Lakukanlah yang terbaik. Sampai jumpa!!”

Sekali lagi cahaya menyilaukan menutupi pandangan Anna.

Skip

Terdengar suara seorang lelaki menyanyikan lagu ulang tahun.

“Mmmhh~…” Anna merasa sedikit terganggu dengan suara nyanyian yang dia dengar.

“Happy birthday Anna, Happy Birthday Anna, Happy Birthday… Happy Birthday… Happy Birthday Anna…”

“Umm…” Seketika Anna membuka matanya lebar dengan ekspresi bloon.

Erlan sedikit tertawa dengan ekspresi bangun tidur yang ditunjukkan Anna. Itu benar-benar tampak lucu untuknya, namun lucu yang dimaksud disini sebenarnya lebih mengarah ke arah imut entah bagaimana.

Tertawa sedikit, Erlan kembali lagi lebih meriah menyanyikan lagu Happy Birthday kepada Anna.

“Eh?!” Anna merespon, baru sadar.

“Happy birthday ayang Aan yang ke 26. May your Wish Come True :D”

Erlan menyodorkan kue ulang tahun yang telah dipersiapkannya kepada Anna.

“Wah.. makasih yayang Lalanquww…(makasih sayang Lalanku)”

Mata Anna tampak berkaca-kaca melihat surprise yang Erlan buat. Kue yang disodorkan kemudian diterima dan ditaruh di kedua pahanya.

“Make a wish dulu dong.”

Erlan mengingatkan Anna untuk berdoa untuk sebuah permohonan kepada Tuhan sebelum meniup lilinnya.

Annapun kemudian memejamkan matanya dan mengucapkan doa permohonannya dalam hati.

Selesai make a wish Anna menatap Erlan dengan senyuman manis dengan wajah memerah yang tak terlalu kentara karena lampu kamar yang dimatikan, hanya diterangi cahaya lilin, sambil berkata, “Dah..”

Suaranya pelan, singkat namun terdengar begitu imut dan menggemaskan.

Erlan kemudian dengat segera memegang kuenya, mendekatkan ke hadapan Anna dan mulai menyanyikan lagu.

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya.. Tiup lilinnya …”

Tanpa menunggu Erlan menyelesaikan nyanyian, Anna segera meniup kedua lilin yang menunjukan angka 26.

“Yeahhh…~”

Terdengar suara sorakan dari Erlan yang di susul suara sorakan gembira dari Anna.

Erlan lalu menaruh kuenya kembali ke paha Anna dan buru-buru menyalakan lampu ruangan, agar rekaman video ulang tahun Anna bisa tampak jelas ketika cahaya lilin kue sudah tak bisa lagi menerangi.

Rekaman yang sebelumnya pun sebenarnya tidak masalah meski hanya diterangi 2 cahaya lilin saja, karena meski lampu dimatikan, keadaan cahaya ruangan dalam rekaman video masih tampak cukup jelas meski memang tetap kelihatan agak sedikit gelap. [*Anggap saja karena kualitas handycam yang bagus, atau memang karena factor keadaan cahaya luar ke dalam ruangan, dan sebagainya.]

Setalah lampu menyala, Erlan kembali ke kursi di samping kanan Anna dan mengambil 2 buah piring kecil (apa ya istilah tepatnya?) dan sendok kecil. Erlan lalu mengambilkan pisau plasticnya yang berada di samping kue dan diberikan kepada Anna.

Sambil memegang 2 piring kecil dan 2 buah sendok kecil, Erlan mulai menyanyikan lagu ritual ulang tahun berikutnya. Sambil menunjukkan ekspresi bahagia menyaksikan Anna.

“Potong kuenya, potong kuenya, ..potong kuenya sekarang juga.., sekarang.. juga, sekarang juga..~”

Anna pun memotong sepotong kue yang terlihat sedikit lebih banyak dan menaruhnya ke salah satu piring kecil yang di pegang Erlan.

Sambil menyaksikan hal tersebut, Erlan memerhatikan dengan sedikit menunjukkan ekpresi bertanya-tanya mengenai kenapa tentang ukuran kue yang diambil Anna tampak cukup besar untuk porsi 1 orang.

‘Aan lagi kelaperan ya? Ngambilnya kok banyak banget? Emang sih dokter bilang Aan boleh nyantap kue cake, meski dalam porsi yang gak boleh terlalu banyak. Porsi ini pun sebenarnya masih diperbolehkan, dan masih bisa nambah satu potongan kecil lagi. ..Tapi tak ku sangka Aan bakal makan sebanyak ini.. dia ngidam apa gimana?’

Anna yang melihat Erlan agak bengong pun bertanya.

“Lan.. Kenapa bengong?”

“Eh?.. Gak. Itu.. Kok tumben ngambil kuenya banyak banget?”

“Buat berdualah, kamu kira aku ngambil segini banyak buat makan sendiri ya? Wuuh~”

“Oh.. kirain. …. Eh??!! Berdua? Maksudnya suap-suapan?”

“Iyalah… Kenapa? Gak boleh?”

“Gak pa-pa sih. …”

“Waktu masih kecil kan kita sering makan, sambil suap-suapan!”

“Itu kan dulu pas masih kecil”

“Jadi sekarang gak boleh?”

“Boleh sih… tapikan..” Pipi Erlan memerah.

Anna lalu segera mengambil kue dan sendok yang dipegang Erlan.

“Baiklah ini dia, Erlan!” Anna menyendokan kue dan …. “AAA~~~M”

“Eh…!?

“Ayo Erlan… Buka mulutmu~!”

“A… Ehh!? ..Apa ini?!”

Erlan tampak salah tingkah kali ini.

“Ayolah! Cepat makan!” Anna yang juga wajahnya memerah segera memasukan kue tersebut ke dalam mulut Erlan dengan menyuapinya.

“!?” ‘E~…’ Erlan agak kaget dalam hatinya.

“Kuenya ternyata enak juga”

Erlan mengomentari rasa kuenya dengan wajah memerah sambil mengunyah kemudian menelan kuenya.

“Benarkah? ..Kalo begitu sekarang giliranmu menyuapiku!”

“Eh? Aku juga harus melakukannya!?

“Y-ya”

“Ba..baiklah ini dia!?!”

“A~~~m”

Erlan dan Anna berganti-gantian saling menyuapi sampai kue yang di piring kecil tersebut habis.

‘Jadi yang disuapi atau menyuapi ya..?! Meski dulu pernah melakukannya, tapi itu saat masih kecil. Jadi ketika saat ini melakukannya lagi, benar-benar terasa canggung dan sedikit memalukan? ..Walau begitu, tak bisa dipungkiri aku sungguh senang melakukan ini. …Tapi, ngomong-ngomong, ini berarti sama aja seperti ciuman secara tidak langsung!!!”

Memikirkan hal tersebut seketika wajah Erlan langsung memerah secara penuh. Kalo digambarkan bagaikan termometer yang dipanaskan kemudian seketika itu juga garis penanda panas tersebut segera naik ke atas sampai penuh. (Coba bayangkan wajah karakter animasi manusia yang merasa malu kemudian wajahnya memerah, mulai dari leher yang memerah dan kemudian naik ke kepala dan mengembulkan asap seketika. XD If you know what I mean.)

Melihat wajah dan tingkah Erlan yang seperti itu, ditambah Anna yang juga sebenarnya sudah mengetahui bahwa Erlan memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Anna mulai mencoba menggoda Erlan agar dia mengaku bahwa dia menyukainya (Anna).

“Hei.. hei.. Ayang Lalan, wajahmu terlihat begitu jelas memerah tuh. Kamu gak lagi sakit, atau panas kan?”

“Nggak~ sih..”

“Kalau gitu kamu malu ya tadi suap-suapan ama Aan?”

“…..”

Erlan gak bisa berkutik, dan jadi bingung dan tak tau harus berkata apa.

“Kok malah diem sih??”

“Nggakk…”

“Oh.. Yaudah deh.. By the way, Lan kalo misalnya aku jatuh cinta ama kamu gimana?”

Anna menggoda secara stright to the point karena Erlan kayaknya terlalu malu untuk mengakui, pikir Anna.

“Eh?!..”

Kali ini Erlan yang tampak shock dan seakan gak percaya mendengarnya. Erlan memeriksa suhu tubuh kepala Anna. Dan mulai bertanya tentang keadaan Anna.

“Aan pas kecelakaan kepala kamu kebentur ya? ..Perasaan kamu sekarang gimana?, Kepala kamu kerasa sakit gak? Tapi kepala kamu gak panas kok? Apa perlu aku panggil dokter biar bisa meriksa keadaan kamu?”

Erlan panik mengira terjadi sesuatu yang aneh atau berbahaya dengan mentalitas Anna dan mengira mungkin terjadi benturan di bagian kepala Anna.

Anna yang melihat tingkah Erlan yang berlebihan dan kesalahpahamannya yang benar-benar bodoh, tampak facepalm, merasa sedikit kecewa dengan ketidakpekaannya, tak berdaya dan akhirnya menghembuskan nafas keluh dalam yang panjang.

“Lalan.. aku gak pa-pa. Kepala aku gak kebentur sama sekali kok! Aku bisa mikir dengan normal kali! Kamu kenapa sih? Kok reaksinya malah gitu sih?”

“Jadi, kamu gak pa-pa ya? Kalo gitu kenapa tadi kamu ngomong kalo misalnya kamu jatuh cinta ama aku?”

“Emang gak boleh ya?”

“Bukannya gitu.. Tapi dulu kan kamu bilang kita lebih baik sahabatan, kamu juga gak suka soal kita jadian dan kamu juga marah pas aku becanda bilang aku suka sama kamu sampe kamu gak mau ngehubungin aku selama beberapa minggu. Dan tentang janji kita untuk sahabatan selamanya juga!”

“Aku udah gak peduli lagi soal janji sahabatan kita selamanya. Kamu mau tau kenapa pas dulu, kamu bilang suka. Dan aku, kamu bilang marah karena hal itu?”

Erlan tak mengerti dan mencoba menyimak penjelasan sahabat tercintanya Anna.

“Asal kamu tau. Waktu itu, saat kamu ngomong kamu suka aku lewat telpon, sebenarnya aku dah seneng banget ngedenger hal itu. Namun karena panik, aku malah ngejawab. ‘Kamu ngomong apaan sih?’ dan segera menutup telpon karena aku bingung mau nanggepinnya gimana. Lalu ketika kamu nelpon malam hari, aku udah seneng banget dan mau jawab iya aku mau. Eh, tapi kamu malah ngomong kalo yang sebelumnya itu cuma becanda. Jelaslah ngedengar hal itu aku kecewa dan gak ngebalas sms-sms maupun telpon darimu selama beberapa minggu. Setelah udah beberapa lama gak berkomunikasi sama kamu, aku sebenarnya ngerasa menyesal dan akhirnya datang ke rumah nenek dan ngomong panjang lebar, sebenarnya aku tetep kecewa karena kamu bilang itu hanya guyonan. Namun karena aku gak mau hubungan kita bermasalah dan persahabatan kita hancur. Makanya aku maafin kamu. Namun perasaan sayang dan suka aku ke kamu sebenarnya udah mulai tumbuh sejak kita berusia 16 tahun dulu. Waktu itu untuk pertama kalinya kita bisa ketemu lagi setelah satu tahun lost contact karena kamu di adopsi sama seorang bapak yang akhirnya meninggal karena kecelakaan. Karena meninggalnya bapak tersebut kamu akhirnya kembali ke panti, mencoba menghubungi dari sana dan akhirnya kita bisa ketemuan lagi. Saat itu kamu benar-benar tampak berbeda dan entah kenapa aku ngerasa seneng banget karena dah lama gak ketemu. Dan kemudian lagi entah kenapa jantungku terus berdegup kencang saat dekat kamu, bahkan seusai kita berjumpa, ketika sudah di rumah pun jantungku tetap berdegup kencang ketika ngebayangin kamu. Dan jujur sampai saat ini perasaan itu masih tetap sama. Kamu gak tau kan 19 tahun persahabatan kita dan sebenarnya aku udah memendam perasaan cinta ini selama nyaris 10 tahun! Jadi kalau kamu mau tau kenyataan yang sebenarnya, inilah fakta mengenai perasaan aku ke kamu selama ini.”

Anna menjelaskan panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.

Erlan yang baru menyadari hal tersebut, akhirnya angkat suara.

“Maafin aku An, aku gak tau bahwa kamu udah mendam perasaan ini lama. Jujur, sebenarnya aku juga suka, sayang dan cinta sama kamu. Sayangnya aku baru menyadari hal tersebut 3 tahun yang lalu sampai saat ini. Dan meski begitu aku terlalu bodoh dan pengecut, gak berani ngengungkapin hal ini ke kamu sejak dulu. Bahkan saat ini, aku malah kalah ama kamu yang jujur duluan tentang perasaanmu. Tampaknya aku memang cowok yang benar-benar kurang peka. *Sigh* Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya aku juga mungkin udah menyukai kamu sejak kita berusia 14 tahun, itu adalah saat dimana kamu akhirnya diadopsi oleh Nek Rosna. Namun karena masih terlalu muda, aku pun mengabaikan perasaan itu dan mengganggap hal tersebut adalah perasaan persahabatan kita berdua, sebatas itu. Meskipun aku sangat kecewa dan sangat sedih ketika kita akhirnya harus berpisah untuk pertama kalinya. Bahkan kau tau, karena kau sahabatku satu-satunya di panti asuhan, sampai setahun kepergianmu dari panti asuhan aku masih tetap terus saja merasa kesepian karena tak punya teman. Aku merasa hanya kau yang cocok denganku, meskipun yang lainnya memang baik padaku, akan tetapi aku sungguh tak bisa berbohong kalau aku memang kesulitan bergaul dengan yang lain selain dirimu. Dan ketika kau menyempatkan untuk menelponku, itu adalah saat-saat yang sungguh mendebarkan dan membahagiakanku. Meski begitu ku pikir itu hanyalah sekedar perasaan persahabataan kita saja, gak lebih. Aku sungguh tak mengerti membedakan perasaan persahabatan dan cinta ketika itu, bahkan sampai sebelum 3 tahun yang lalu. Banyak hal yang telah terjadi. Dan setelah mendengar masukan dari teman kerja ku di kantor dan ketika aku memutuskan memperhatikanmu lebih lama dan mencoba merasakan perasaan yang ada dalam hatiku, aku baru menyadari saat 3 tahun yang lalu kalau aku sebenarnya suka, sayang dan sangat mencintaimu. Makanya aku seringan malah memutuskan bercanda untuk menggodamu. Dan tak berani mencoba untuk jujur saja. Aku sungguh membohongi bahkan mengkhianati perasaanku sendiri kepadamu dan itu rasanya jujur sungguh menyakitkan untuk tetap berusaha menjaga persahabatan kita ini, dengan menyembunyikaan kenyataan tentang perasaan cinta itu sendiri. Maaf karena kebodohanku, dan segalanya, aku sekarang mengerti dan tau bahwa sebenarnya kamulah orang paling tersiksa dalam keadaan ini. Maafkan aku, sungguh. Jadi.. Sekarang, kumohon, maukah kamu menikah denganku?”

Mendengar segala penuturan Erlan dan rapalan(?) ajaib Erlan yang terakhir, Anna benar-benar tak menduga bahwa Erlan aku langsung melamarnya.

Sedikit terkejut dan terdiam beberapa saat dengan posisi kedua tangan yang menutup mulutnya yang manis karena keterkejutan dengan lamaran yang tiba-tiba, tanpa pikir panjang lagi, karena inilah yang memang dia impikan.

“Ya, aku mau. Aku bersedia. Aku mau menjadi isterimu, pendamping hidupmu seumur hidupku!!”

“Yes!! Thanks God, Impianku jadi kenyataan. Ternyata benar, disetiap musibah itu selalu ada berkah yang Engkau sediakan. Seperti pelangi sehabis hujan!”

Erlan memanjatkan syukur dan terus bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Kali ini Erlan benar-benar merasakan begitu bahagianya untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya.

Namun tiba-tiba suasana berubah.

Anna tampak menunduk sedih. Erlan yang melihatnya jadi bingung dan bertanya kenapa, Anna pun menjelaskan semuanya, pertemuannya dengan Shinigami Myo dan sisa waktu hidunya yang tinggal sampai pukul 24.00 hari ini atau jam 12 nanti malam. Awalnya Erlan tak percaya dengan apa yang telah dijelaskan Anna, namun pada akhirnya Erlan percaya setelah Anna menceritakan apa yang dilakukan Erlan sebelum membangunkan Anna untuk surprise birthday.

Menyadari hal tersebut Erlan ikut melemas, namun tiba-tiba entah kekuatan dari apa yang muncul dalam hati dan pikirannya, Erlan tiba-tiba menjadi teguh dengan imannya dan optimis terhadap cinta mereka berdua.

“Anna tenanglah, aku yakin kau akan baik-baik saja. Kau ingat ucapanmu kemarin kan? Bahwa aku tak perlu khawatir karena kamu akan baik-baik saja! Aku percaya hal tersebut, kamu pasti akan baik-baik saja. Percayalah dan terus berdoa!”

Erlan berusaha menguatkan Anna.

“Meski begitu, itu sudah ditetapkan.”

“Kenapa kamu malah ngedown? Apa An gak percaya mengenai mujizat? Aku yakin mujizat itu akan terus terjadi sampai saat ini, bahkan selama-lamanya. Asalkan kita yakin, berdoa dan teguh kepadaNya! Bahkan bila kamu masih bisa tetap ada dalam keadaan seperti ini, dan semua kejadian yang sudah kamu alami sampai saat, bukankah kamu sudah melihat terlalu banyak mujizat?! Apakah An masih akan ragu kalau apa yang sudah ditakdirkan untuk An esok hari mungkin saja akan berubah, dan mujizat itu ternyata benar-benar terjadi lagi bahwasanya cinta kita yang tulus dan kuat diakui oleh sang Pencipta dan kita pun bisa bahagia bersama selamanya. Pernahkah An mendengar tentang kutipan ini? Dimana tertulis bahwa Cinta itu kuat seperti Maut!?! Itu berarti jika cinta kita kuat pasti meskipun An bilang kalau An akan meninggal besok, Lan yakin kalau Aan pasti masih akan tetap hidup sampai seterusnya. Entah mengapa Lalan begitu optimis kalau Aan akan tetap baik-baik saja!”

Anna benar-benar tersentuh dengan motivasi yang diberikan Erlan. Anna menjadi lebih tegar dan yakin.

“Lan kamu benar, dan aku juga akan tetap optimis kalau aku pasti akan tetap hidup besok bahkan seterusnya. Aku mungkin bisa dengan cepat masuk surga. Namun, entah mengapa dalam hati ini seperti ada ganjalan yang membuatku ingin tetap survive untuk hidup di dunia ini. Aku ingin menyatakan cintaku kepadamu, dan aku yakin ada alasan mengenai perasaan ini mengapa terasa begitu kuat, aku sendiri gak tau alasan tepatnya kenapa. Namun aku yakin, aku akan tetap hidup bersamamu dan ini adalah takdir sejatiku! Mungkin ini terdengar bodoh, namun dalam lubuk hatiku berkata bahwa aku harus tetap tinggal bersamamu dan ini belum waktunya untukku untuk masuk ke surga. Meski aku sendiri tidak memiliki bukti yang kuat untuk menyatakan kebenaran tentang hal ini, ini hanyalah intuisi pribadiku saja. Namun keyakinanku jauh lebih kuat mengenai hal ini.”

Anna kemudian jadi teringat dengan doa permohonan yang ia panjatkan ketika membuat make a wish tadi. Anna pun menyinggung hal tersebut pada Erlan.

“Oh iya, Lalan kau ingatkan tadi bahwa sebelum aku meniup lilin tadi aku melakukan make a wish?! Kamu mau tau apa permohonan yang kupanjatkan tadi?”

“Apa?”

Erlan tampak begitu tertarik mendengar segala ucapan Anna, apalagi ketika Anna tampak kembali begitu bersemangat dan berpikiran positif lagi. Erlan pun bertanya dengan singkat.

Anna pun jujur mengungkapkan beberapa permohonan tulusnya, tentang dia ingin perasaan cintanya tersampaikan dan Erlan bisa jujur mengenai perasaannya kepadanya, dia ingin bisa menikah dengan Erlan, memiliki anak hasil buah cinta mereka, melihat mereka tumbuh, menjadi keluarga yang bahagia dan rukun, membesarkan anak mereka sampai mereka bisa hidup secara mandiri, melihat anak mereka berkeluarga kelak, menyaksikan cucu-cucu mereka bermain kesana-kemari. Dan apabila Tuhan berkata lain dengan tidak memberikan karunia anak sekalipun, dia ingin cinta mereka tetap kuat dan tak terpisahkan, hidup bahagia berdua dan terus saling mencinta sampai selama-lamanya.

Mendengar pengakuan jujur tersebut, Erlan benar-benar tersentuh dan jadi jauh merasa lebih mencintai Anna lagi dan lagi, sampai seluruh alam semesta bahkan takkan cukup sanggup untuk menahan besar dan luasnya cinta Erlan.

Hari itu menjadi hari yang terasa sangat panjang dan teramat indah bagi mereka berdua.

Tak terasa tinggal satu menit lagi sampai batas waktu penentuan.

Namun tanpa memedulikan hal tersebut, Erlan dan Anna sudah jatuh terlelap dalam tidur merka di kasur yang sama tempat Anna dirawat untuk dia beristirahat. Sebelumnya Anna memang meminta Erlan untuk menemaninya tidur di sampingnya, Anna menggenggam tangan kiri Erlan dengan erat untuk membunuh rasa takutnya terhadap kematian. Satu-satunya yang dia takuti bukanlah kematiannya sendiri, melainkan perasaan takut tersebut lebih ke perasaan takut terhadap perpisahan dengan orang yang paling ia cintai untuk selamanya.

Dan tanpa terasa satu hari tlah berlalu, suatu hal yang mengejutkan pun terjadi, terutama untuk sosok Erlan yang masih belum mampu dan siap untuk menerima kepergian Anna.

Erlan terkejut melihat Anna sudah tak berada di sampingnya lagi, Erlan menyesal berharap bisa mengulang waktu agar bisa melamar Anna lebih cepat. Erlan terpukul merasa bersalah dan menangis sejadi-jadinya.

Pintu kamar ruangan tersebut telah dibiarkan terbuka sejak Erlan terjaga dari tidurnya.

Mungkin mereka membawa mayat Anna di pagi hari ketika Erlan masih terlelap dalam tidurnya dan membiarkan pintunya tetap terbuka, pikir Erlan.

Menyesali hal tersebut, tak sempat memasangkan cincin di jari manis Anna, cincin yang sudah dipesannya untuk mereka berdua. Erlan pun semakin kencang dan lebih gaduh menangis sejadi-jadinya. Meratapi kepergian Anna.

Beberapa suster dan dokter yang lewat serta beberapa pasien dan pengunjung yang lewat, jadi penasaran dan mengecek keberadaan dari seorang pria yang menangis tak karuan tersebut.

Seorang dokter lelaki dan perempuan yang kebetulan lewat mencoba menenangkan Erlan. Para Suster yang masuk memeriksa dan menyaksikan sikapnya tampak khawatir. Para pasien dan pengunjung lainnya juga tampak saling berbincang memperbicarakan apa yang sebenarnya terjadi, meski mereka sendiri tidak tau pasti apa yang sampai menyebabkan pria tersebut, yakni Erlan jadi seperti ini.

Sang dokter pria mencoba menenangkan Erlan dan meminta penjelasan darinya, namun Erlan terus saja menangis. Sang dokterpun meminta seorang suster untuk memanggil dokter yang bertugas di ruangan ini untuk meminta penjelasan tentang penyakit pasien dan masalah yang dihadapi.

Sang dokter pria tersebut menyangka bahwa Erlan adalah pasien yang berada di kamar tersebut.

Erlan sendiri terus merengek seperti anak kecil.

Tiba-tiba seorang suster yang menemani seorang wanita pun masuk ke dalam.

Sang wanita yang ditemani suster tersebut tampak kebingungan dengan situasi aneh dalam ruang rawat rumah sakit tersebut.

Mengapa jadi banyak orang yang berkumpul di sini, pikirnya.

Sang wanita tersebut pun angkat bicara.

“Apa yang terjadi di sini Lalan? Mengapa ada banyak orang berkumpul di sini?”

Erlan yang sudah kecapean menangis menjerit tersebut dalam posisi menghadap kasur, tiba-tiba terhentak dengan suara tersebut. Sepertinya suara itu terdengar tak asing untuknya.

Erlan pun berputar dan menoleh ke arah asal suara.

Di hadapan kedua matanya, Seorang wanita yang tak asing berdiri dihadapannya sambil dibantu seorang suster yang membantu menopangnya untuk berjalan.

Sang wanita sambil dibantu sang suster berjalan mendekat ke arah samping kanan dari sisi Erlan.

Erlan masih tampak kebingungan dengan situasi sudah yang terjadi.

Kurang lebih 10 detik kemudian baru membuat Erlan sadar.

“Aan…. Kamu masih hidup?” Erlan bertanya memastikan seakan gak percaya. Atau mungkin ini hanya delusi dari Anna yang telah pergi meninggalkannya?!.

Sang wanita mengangkat suaranya dengan keras.

“Kamu kenapa sih Lan? Bangun pagi-pagi udah aneh-aneh aja? Aku kan cuman pergi ke WC bentar dibantuin Suster Meta! Ya jelaslah aku masih hidup! Kamu malu-maluin aja tau gak sih. Ngerengek kayak bocah begini..” Anna tak habis pikir dengan tingkah kekanakan Erlan. Sungguh apa jadinya bila Anna beneran mati, mungkin Erlan akan merasa bersalah berakhir bunuh diri, pikirnya.

Orang-orang dalam ruangan tersebut hanya terpaku menyaksikan adegan percakapan antara Erlan dan Anna.

Drama macam apa ini yang baru mereka saksikan?

“Tapi kemarin kamu bilang?”

“Itu kan hanya becanda, mana ada Shinigami? Mana ada aku bisa tau kapan aku bakal mati? Kamu ini, obrolan guyonan di anggap serius.”

Anna pun meminta maaf kepada semua orang yang ada di sana untuk kekacauan yang tlah dibuat pacarnya, Erlan.

Para dokter termasuk dokter yang merawat Anna yang juga sudah datang dan mendengar kata-kata Anna barusan, para suster, pasien dan semua pengunjung yang tertarik menyaksikan adegan yang baru saja terjadi, akhirnya memahami apa yang sebenarnya terjadi, ternyata itu hanyalah sebuah kesalahan seorang Pria bernama Erlan yang merasa percaya dengan guyonan mistis yang dibuat oleh kekasihnya. Setidaknya itulah gambaran singkat yang disimpulkan mereka ketika menyaksikan adegan ‘drama singkat’ barusan.

Seorang dokter pria yang menyaksikan hal tersebut sejak awal pun akhir nya memutuskan untuk segera keluar ruangan setelah menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka. Diluar ruangan tersebut terdengar sang dokter pria menyeletuk kepada rekan dokter wanitanya, “Drama Cinta rupanya. Hahaha~ Baru kali ini saya menyaksikan kejadian macam itu di rumah sakit loh, Dokter Miranda!” sang dokter wanita pun membalasnya. “Sama saya juga. Itu kejadian pertama kalinya untuk saya melihat kejadian seperti itu!”

Erlan menguping pembicaraan kedua dokter tersebut yang berjalan menjauh ke arah depan rumah sakit. Menyimak perbincangan terakhir kedua dokter tersebut, Erlan benar-benar merasa frustrasi dan tampak seperti orang bodoh beneran. Meskipun dia juga bahagia mengetahui kalau orang yang dicintainya Anna masih tetap hidup. Akan tetapi mendengar kata-kata Anna barusan benar-benar menghancurkan hatinya meskipun masih tetap bisa dipasang utuh kembali karena tulus cintanya terhadap Anna.

“Aan tolong jelaskan semua ini! Apa maksudnya yang kemarin itu hanyalah sebuah guyonan? Aku yakin dengan pasti bahwa kemarin itu kamu kelihatan jelas berbicara dengan begitu serius tentang semua yang kamu sampaikan kepadaku. Mengapa kamu jadi berubah begini? Meskipun aku senang kau tetap hidup sampai saat ini, setidaknya tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Aku sebenarnya kecewa dengan sikapmu tadi yang malah membuatku merasa semakin dipermalukan. Tapi aku yakin pasti kamu punya alasan yang sebenarnya untuk melakukan hal tersebut?!”

“Tidak. Mengenai hal-hal mistis tersebut, itu memang benar-benar hanyalah sebuah guyonan belaka. Aku hanya ingin mengetesmu saja untuk menguji seberapa besar cintamu kepadaku! Itu saja. Maaf ya, kalo terlalu berlebihan. Tapi, tampaknya aku memang memiliki bakat seni terpendam sebagai seorang artis ya? Fufufu~”

“Heee~~??”

“Jadi setelah kita keluar rumah sakit, kita akan menikah ya?!”

“Tidak.. Tidak jadi!!”

“Ehh!?~~ Kamu kan udah ngelamar aku. Jadi kamu harus tetep nikahin aku. Kamu harus bertanggung jawab dengan ucapannya!.”

“Kau sendiri bagaimana? Gimana bisa kamu membohongi orang yang udah benar-benar tulus menyatakan cinta untukmu. Kau bahkan tega mempermalukan aku di depan mereka semua. TwT”

“Kalau soal itu aku minta maaf. Aku kan hanya berbicara jujur tentang yang kemarin. Lagipula aku sebenarnya bermaksud ingin menjelaskannya semuanya kepadamu tadi pagi, namun kamunya malah masih tetap keasikan tidur.”

“Uhhh~ tetep aja itu ngeselin. Aku jadi ngerasa bener-bener bodoh tau gak!”

“Maaf deh yayang Lalan! Kalo gitu sebagai permintaan maaf kamu boleh minta apa aja ama aku!”

“Serius?”

“Serius!”

“Umm~” Erlan mikir..

“Kalo gitu aku minta kiss darimu selama kamu masih dirawat di sini!”

“Nanti ya!”

Sorenya.

“Erlan mau kiss kan?”

“Sekarang nih?”

“Iya. Tutup mata dulu!”

“Dah!”

Erlan mulai deg-degan.

“Buka kedua tangannya”

“Eh? Maksudnya begini?”

Erlan membuka kedua tangannya dengan gaya seperti ingin memeluk.

“Eh.. Bukan. Bukan begitu. Begini nih maksudnya. Biasa aja tangannya!”

Anna mengedepankan kedua tangannya.

“Putar tangannya seperti ini. Tangannya jangan digenggam, dibuka, jari-jari tangannya dibuka! Sip.”

“Kamu mau ngapain sih? Kiss doang ribet banget.”

Erlan bete menunggu.

“Iya, udah-udah. Dah siap!”

Erlan senang mendengarnya, dan mulai mencondongkan bibirnya.

“Nih.. Kiss! Aku kasih kiss yang banyak!”

“Ehh!?! Apa maksudnya ini?”

“Katanya mau kiss? Tuh Aan kasih permen kiss yang banyak. :P”

“Maksudku kan kiss ciuman yang beneran ayang Aan!”

Erlan ngarep.

“Eit. Tungguh ampe aku keluar rumah sakit dan kamu nikahin aku! Kalo dah sah, aku janji deh kamu bakal dapet lebih dari kiss sepuasnya kapanpun kita berdua mau. Tee hee~”

Skip

Anna dan Erlan pun akhirnya menikah dan baru mau memulai malam pertama mereka.

Dari dunia spirit Shinigami Myo menyaksikan mereka berdua yang tengah bersiap-siap mengambil ancang-ancang.

Radah iseng, Shinigami Myo menganggu malam pertama tersebut. Alhasil seorang pria yang sudah ditakdirkan untuk mati dalam kecelakan pesawat Helikopter. Tiba-tiba Pilot Helikopter tersebut mengalami sebuah kendala penerbangan, entah mengapa bahan bakar helikopter tersebut sedikit demi sedikit dengan pasti berkurang secara perlahan. Sampai pada sebuah ketinggian tertentu, Helikopter tersebut pun terjatuh. Dan menimpah bagian belakang sebelah kiri rumah kediaman Keluarga Erlan – Anna. Untunglah helikopter itu tidak meledak, meski mendarat di tempat yang salah dan menghancurkan sebagian besar bagian belakang rumah Erlan dan Anna.

Erlan dan Anna yang baru mau mulai berciuman, mendadak terkejut karena jatuhnya sebuah benda asing di kediaman rumah mereka.

*Dbruarrr*

Menyadari hal tersebut,

“SHINIGAMIIIIIIII MYOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Anna berteriak histeris!!! Erlan menatap istrinya kaget.

“Eehh~~h!?!”

***

Profil Penulis

Prasetyo Peuru Henry Putra lahir di Luwuk, Sulawesi Tengah,  28 Agustus 1994, dari seorang Ayah yang bernama Ir. Henry John Ch. Peuru dan Ibu bernama Cendra Henny Kawung. Bakat menulis diwarisi dari sang Ayah yang juga bekerja sebagai Jurnalis dan Penulis Buku. Disaat menulis buku kumpulan cerpen Random Romance ini, sang penulis menderita penyakit Paranoid Schizophrenia. Sakit tersebut dialami penulis akibat depresi pernah diculik saat masih berusia 15 tahun. Karena kasus Ayahnya yang juga merupakan aktivis kemanusiaan. Buku cerpen Random Romance ini sebagian ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Selain itu penulis bekerja sebagai freelancer IT dan sesaat menulis cerpen, cerita fanfiksi, puisi dan lirik lagu di dunia maya facebook, wattpad dan blog pribadi Peuru.com.

Saat mau mencetak buku ini, penulis sedang berkuliah di jurusan Manajemen Informatika di AMIK Nurmal, Luwuk Banggai, Semester 3.

Penulis adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakak penulis bernama Risa Christie Peuru dan adik bernama Moris Peuru Kawung.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started