“Sekilas”
Waktu itu aku ingat, saat sedang bekerja di CV. Sinar Nyata sebagai operator Graphic Designer, aku yang lagi berbicara asik dengan seorang pelanggan, dia bertanya. Penulis buku siapa yang membuatku tertarik menjadi penulis, karena menurutnya seorang penulis awalnya pasti mempunyai seorang panutan atau idola seorang penulis yang membuat kita jadi tertarik untuk menulis. Hal itu ditanyakannya karena aku bercerita padanya bahwa aku juga suka menulis. Aku lupa waktu itu aku bilang apa, namun yang jelas, meski memang aku suka baca tapi aku tak punya seorang panutan atau idola seorang penulis lain. Buku-buku yang ku baca sebelum waktu itu, bahkan aku tak tau siapa penulisnya. Jadi tak ada sama sekali penulis lain yang ku idolakan atau dambakan untuk bisa seperti ‘mereka’. Lagipula, sebelum mulai serius menulis cerita, dulunya aku lebih suka menulis karya berupa puisi, sajak dan sebagainya, menurutku menulis singkat lebih nyaman dan tak membosankan. Sampai pada waktu Papaku menerbitkan buku keduanya, aku jadi terketuk dan terdorong untuk bisa membuat buku juga. Setelah kupikir-pikir, mungkin alasan aku ingin jadi penulis professional, selain karena ternyata menulis itu seru, itu juga karena Papaku, orang yang paling ku segani di dunia ini. Bagiku, Papaku sangat hebat. Meski dulu kami pernah berkata satu sama lain, dimana Papaku ingin aku bisa jadi lebih baik dari dirinya, namun setelah kurenungkan saat ini, aku masih belum bisa lebih hebat dari dirinya. Perbedaan Papaku dan aku masih bagaikan Langit dan Bumi. Bukannya merendah, tapi aku memang belum bisa lebih baik dari Papaku dari berbagai segi kehidupan. Aku ingin jadi penulis hebat namun tak memiliki panutan penulis lain yang menginspirasi. Bahkan aku sendiri jujur malas membaca buku Papaku sendiri.
Setelah mulai membasahi diri dengan dunia kepenulisan, walau beberapa kali pernah berhenti, balik nulis, berehenti, dan nulis lagi. Memang banyak karya yang ku buat, entah kenapa, pikirku karyaku tersebut belum bisa membuatku berkata ini karya yang hebat, aku masih merasa karyaku belum sesuai dengan tulisan cerita yang kuinginkan. Yang jelas aku belum puas dengan karya-karyaku sejauh ini. Sebut saja buku pertama yang ku publish di Google Play Books, Wisdom Of Love: Petra dan Lala, kurang puas dibagian pertengahan sampai akhir ceritanya. Juga Basketball and Love: Tim NBC, masih ada yang kurang menurutku, kurang panjang dan bingung mau bikin kelanjutannya gimana. Kemudian buku ke-tiga yang terbit di Google Playstore, Cinta Seorang Sahabat: Kumpulan Cerpen 1, bagus sih, tapi masih kurang saja menurutku. Namun, ternyata dibanding membuat cerita, aku memang lebih berbakat menulis puisi/sajak dan semacamnya, buktinya dengan buku ke empatku di Google Play Books yakni, Harmoni Sajak: Kumpulan Puisi 1, ternyata aku sungguh lebih puas dengan karya ini, karena puisinya ada sekitar 100-an halaman dan mempublishnya adalah sebuah kebanggaan, meskipun aku tak tau apakah karya semacam ini banyak yang suka atau tidak, karena pastinya buku dengan isi cerita pasti lebih menarik ‘mungkin’ dibanding buku dengan isi puisi. Jadi intinya, empat buku yang sejauh ini ku terbitkan di Google Play Books masih kurang memuaskan. Pengennya sih bisa bikin tulisan cerita yang menarik yang isi halamannya ada 200-an halaman-lah. Masalahnya kini cuman satu, aku orangnya suka mageran kalau udah bikin sesuatu yang lama. Entah kenapa terkadang ide-ide baru suka bermunculan disaat aku sedang focus untuk karya-ku yang lagi sedang dikerjakan, jadi terkadang suka teralihkan untuk menulis sesuatu yang lain karena takut idenya hilang. Alhasil, proyek utama tak kelar-kelar. “Hadeuhhh….!”.
Aku pria berumur 23 tahun, sudah mau berumur 24 tahun sih saat ini. Sekarang tanggal 9 Juni 2018 dan nanti pada tanggal 28 Agustus 2018 aku akan berulang tahun ke-usia 24 tahun. Saat ini aku berkuliah di AMIK Nurmal jurusan Manajemen Informatika. Teman-temanku yang seangkatan di sekolah dulu sudah pada lulus kuliah dan bahkan yang lain sudah mau S2. Alasan aku masih kuliah Semester 2, karena setelah lulus sekolah, aku bekerja dulu sebelum melanjutkan study di Perguruan Tinggi. Oh iya pengalaman kerja ‘serius’ pertamaku, adalah saat duduk di SMK dulu, saat kelas dua, kita diwajibkan untuk melakukan Prakerin/PKL(Pelatihan Kerja Lapangan), dan saya melakukan PKL di Merah Production House sebagai Trainee bagian Graphic Design. Kala itu yang ku kerjakan adalah Proyek Iklan Honda Spacy, dimana aku membuat desain Story Line menggunakan Photoshop dan Power Point. Juga di Merah Production House hal terakhir yang ku kerjakan sebelum mengakhiri masa Prakerin di sana adalah membuat sketsa sederhana untuk iklan product kecantikan yang aku lupa namanya apa. Kemudian pekerjaan keduaku adalah menjadi staff Administrasi IT di Homeschooling Pelangi, lucunya pas melamar dulu, tepat di hari pertama masuk, aku lalu langsung diminta untuk mengajar jadi guru SD untuk menggantikan guru yang sedang tidak masuk. Alhasil aku langsung jatuh cinta menjadi guru, karena ternyata menjadi pengajar itu seru dan menyenangkan. Ditambah murid-murid yang kuajar senang juga padaku, jadi tambah klop. Alhasil pengalaman kerjaku selain dibidang Graphic Design bertambah jadi, Admin IT, Guru Pengganti, serta Guru Cyber juga di Homeschooling Pelangi. Namun akhirnya aku resign karena suatu hal yang aku juga lupa mengapa aku resign. Keluar dari Homeschooling Pelangi kemudian aku melamar kerja di CV. Sinar Nyata dan diterima. Di CV. Sinar Nyata aku banyak belajar hal baru pula, terutama ini sungguh mengasah skill Graphic Designku karena pekerjaannya sesuai dengan jurusan sekolah yang ku ambil, yakni Multi Media. Namun akhirnya aku lagi-lagi resign, salah satu penyebabnya karena keasikan main game, lagi-lagi aku lupa alasan utamanya mengapa aku resain. Dan terakhir sebelum akhirnya bisa kuliah di AMIK Nurmal, Luwuk, Sulawesi Tengah. Sebelumnya, aku melamar kerja di PT. Solid Gold Berjangka, Jakarta Pusat. Aku bisa melamar dan bekerja di sini, sebelumnya karena dapat info dari teman untuk mencari pekerjaan melalui Jakarta Expo kalau tidak salah namanya. Akhirnya aku pun masuk dan mengikuti proses seleksi dan lolos. Namun ternyata pekerjaannya tak sesuai yang ku harapkan, karena untuk mendapatkan gajinya mesti mendapatkan nasabah terlebih dahulu, akhirnya akupun resign. Beberapa saat kemudian aku pun pindah ke Luwuk, ke rumah Oma-Opaku dari pihak Papa yang memberikan rumahnya untuk Papaku. Sedang Oma-Opaku dari pihak Papaku tinggal di Palu, Ibukota Sulawesi Tengah. Dulunya Opaku memang Pejabat Kepala Dinas Pendidikan dan Omaku dulu Kepala Sekolah, jadi wajar hartanya banyak. Bedanya Papaku tak mau bergantung dengan kekayaan orangtua, dan sejak muda sudah memiliki usaha sendiri. Karena kasus tanah Oma Opaku dari pihak Papa yang mau diserobot orang, akhirnya Papaku pun kembali ke Luwuk untuk mengurusnya, sembari bolak-balik Jakarta-Luwuk-Manado untuk urusan pekerjaannya.
Oh iya, di SMK Nusantara sekolah-ku dulu, aku tak sampai bersekolah sampai tamat. “Haha…”. Alasannya karena penyakit yang ku alami dulu, bahkan sampai sekarang. Nama penyakitnya adalah Skizofrenia, dulu masih Skizofrenia, kemudian beberapa waktu kemudian, saat ku cek lagi nama penyakitnya udah ada tambahan, yakni Paranoid Skizofrenia. Ini intinya adalah penyakit kejiwaan. Jujur sedari kecil aku tak pernah berpikir akan mengalami hal ini. Hal ini bisa terjadi karena masalah yang dialami Papaku dan merembet kepadaku. Karena dulu Papaku yang seorang Wartawan dan Aktivis mencoba membongkar sebuah kasus penculikan dan pembunuhan seorang tokoh di Sulawesi Utara. Bukannya diberi penghargaan akan dedikasinya, dia malah terkena berbagai kasus yang membuatnya mesti masuk keluar penjara bukan karena kesalahan yang dibuatnya. Bahkan Papaku menjadi target pembunuhan, namun tak berhasil karena kasusnya sudah digembar-gembor oleh Mamaku yang berjuang ke berbagai instansi terkait di Jakarta untuk menyelesaikan kasus Papaku. Alhasil, Papaku tak jadi dibunuh karena apabila Papaku terbunuh, maka orang yang menjadi dalangnya pasti ketahuan. Hidup ini memang rumit. Aku yang dulu masih polos dan agak pendiam atau mungkin sama dengan anak kecil pada umumnya harus merasakan stress karena masalah berat yang dialami keluargaku. Jadi, awal aku terkena Skizofrenia, karena pertama saat di kampung halamanku dulu di Boyong Atas, Papaku digrebek oleh Buser yang membawa 3 unit mobil dan banyak Polisi untuk menyeret paksa Papaku dengan kasus sederhana yang sebenarnya aneh, yakni kasus tak menggunakan helm saat berkendara yang mestinya kasusnya sudah selesai. Bahkan karena kasus ini akhirnya Mamaku menjelaskan di media TV One tentang apa yang dialami Papaku, hingga akhirnya Papaku bisa dibebaskan. Namun belum selesai satu kasus, muncul lagi kasus lainnya. Saking banyaknya yang terjadi dan dialami keluargaku, jujur perih saat aku menuliskan kisah ini. Intinya kehidupanku mulai terasa hancur karena kasus yang dialami Papaku. Meski begitu aku tetap bangga kepada Papaku. Karena demi kebenaran dia tak takut meski harus di Penjara. Walau aku menyesalkan hal ini bisa terjadi, karena masa mudaku yang harusnya bahagia, membuatku dewasa sebelum waktunya. Akhirnya setelah keluar dari SMK Nusantara, karena pas ujian sekolah aku tak masuk karena sakit Skizofreniaku. Akhirnya aku pindah ke Toli-Toli, Sulawesi Tengah dan mengikuti ujian kelulusan Paket C dan berhasil lulus. Untungnya pas ujian paket C di Toli-Toli, keadaan kesehatanku aman-aman saja dan bisa mengikuti ujian dengan lancar. Karena beberapa waktu kemudian setelahnya, penyakitku tiba-tiba kambuh hingga membuatku akhirnya dimasukan ke Rumah Sakit lagi. Untungnya ketika aku dijenguk kedua orangtuaku, terutama Papa, karena sebelumnya Mama dan Papaku lagi tidak bersamaku, herannya kesembuhan ku bisa berlangsung cepat dan bisa segera kembali normal dan dibolehkan pulang.
Kini, meski tetap menyandang Paranoid Skizofrenia dan divonis dokter mesti mengkonsumsi obat seumur hidup. Tapi sekarang aku cukup bahagia, tinggal di Luwuk, Sulawesi Tengah, meski dulu mesti pindah-pindah tempat tinggal, Manado-Boyong Atas-Jakarta-Tangerang Selatan, kini di Luwuk aku bisa berbahagia karena kehidupan kami bisa lebih tenang, mapan dan berkecukupan. Ada beberapa hal yang belum kujelaskan di masa kelam kehidupanku karena kasus yang dialami Papaku. Namun, kini yang terpenting di Luwuk sekarang, aku bisa focus menuntut ilmu dengan sebaiknya. Papaku juga sudah lama bebas dari kasus yang dialaminya, meskipun Papaku belum sempat melakukan tuntutan balik akan kasus yang dialaminya karena banyak hal yang mesti dikerjakan. Salah satu orang penyebab masalah dalam hidupku ini juga sudah selesai dalam jabatannya sebagai pemimpin daerah dan tak memiliki power lebih lagi untuk berlaku sesukanya. Bahkan dia juga masih saja meminta damai dengan cara yang berat sebelah. Namun, jujur keluarga kami atau aku sudah malas menanggapi tentangnya.
Berkuliah Semester 2 di AMIK Nurmal, Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Beberapa hari lalu aku mengajukan permohonan beasiswa, selagi dibuka waktu untuk penerimaan Beasiswa. Karena ini merupakan Beasiswa Prestasi, akhirnya akupun mengajukan permohonan karena IPK-ku 3.80. Belum tau nanti diterima atau tidak. Semoga diterima. Amin.
Ngomong-ngomong menulis itu menyenangkan. Segala unek-unek dalam hati bisa kau salurkan lewat tulisan. Bahkan membuat tulisan itu menurutku abadi. Karena kalau kita publish, tulisan kita masih bisa dibaca bahkan walau kita sudah mati sekalipun.
Yang jelas aku masih bisa bertahan sampai saat ini semua karena Tuhan dan keluarga dekatku yang terus mensupportku. Sungguh bersyukur dengan nikmat Tuhan ini. Aku takkan menyerah dengan penyakit Paranoid Skizofrenia ini dan akan tetap terus berkarya. Semangat! 😊
By Prasetyo Peuru Henry Putra
Luwuk, Indonesia, 9 Juni 2018
Leave a comment