Surga, Yerusalem Baru, Kehidupan

Published by

on

Dunia ini, khususnya alam ini, indah banget. Bener-bener pemandangan alam
yang murni, menenangkan, menyejukan, dan membuat hati terasa begitu
damai :))
Kemurnian alam ini sungguh luar biasa, apalagi surga ya?
Gue jadi berasa pengen ke surga aja lebih cepat. Gue gak lagi putus
asa. Hanya saja bilamana demikian gue berpikir dengan begitu gue gak
bakalan lagi menyimpang dan melalukan suatu kesalahan yang gak
seharusanya. Bukannya naive juga, melainkan seandainya gue bisa cepat
dipanggil Tuhan aja. Tapi gue belum menghasilkan apapun yang berarti
juga sih. Jadi teladan engga, dari saat gue sakit dulu ampe sekarang
(walau beberapa saat ini gue mulai kembali jauh membijak) gue masih hidup
dalam hal yang bukan gue dalam kebenaran-Nya itu sendiri. Hanya sekedar
kerinduan yang tak terlaksana, janji yang dipungkiri melalui kelakuan
hidup, melakukan kesalahan berulang kali, meminta pengampunan-Nya, dan
bolak balik ke dalam dosa tak terlihat yang menjijikan adalah
sebenarnya, namun ditutup dengan begitu rapih oleh keahlian diri dalam
menjaga image. Itu mungkin sebenarnya juga sudah menjadi hal yang sangat
lumrah dalam dunia ini. Akan tetapi sekali lagi hati kecilku berkata,
itu tidak patut. Walau kebebasan itu kuinginkan, namun kebenaran adalah
yang jauh lebih terutama.
Seperti ada tertulis, carilah kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka kesemuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Hmm~ Surga, Allah, kebenaran, hidup, keindahan, cinta, sukacita, semua
hal seperti itu lah arti kesejatian yang sebenarnya gue inginin,
mencarinya namun karena hidup di dunia ini yang penuh kepalsuan walau
Allah menciptakan-Nya indah untuk manusia, akan tetapi yang disebut
‘jahat’ itu memberdaya dan membuat manusia jatuh seringkali dan hidup
dalam keputus-asaan.
Tuhan bilamana saat itu tiba? Akankah aku
merasakan kesejatian bersama-Mu? Dasar yang belum kokoh ini begitu rapuh
pada akhirnya saat ketika badai menerpah, begitu menyakitkan dan
kegilaan yang dialami. Kesuraman yang tak terpikirkan sebelumnya. Tak
mengandalkanMu sepenuhNya lah yang membuat itu bisa terjadi begitu
kerasnya. Hardikan terhadap diri. Oleh geram-Mu yang luar biasa. Hanyalah
melalui bimbingan-Mu melalui Firman-Mu seharusnya diri bertekun. Itulah
mengapa dunia ini terasa begitu kejam. Engkau Mulia, Maha kuasa dan
bijak. Dan si jahat memanipulasi kearoganan, kebodohan, dan kepercayaan
diri yang berbelok itu. Sungguhlah surga itu ingin terus dirasa pabila,
namun begitu sulit jauh kesana oleh pikiran yang bercabang dan hati yang
t’lah tercemar.
Tanpa ingin mengakhiri kata demi kata kalimat ini,
sendainya hari surga itu yang didambakan. Bukan Hari yang adalah
kegeraman-Mu itu. Hati terasa begitu lelah, jiwa ini, dan tubuh yang
melemah. Hanya Allah Tuhanlah yang menjadi kekuatan sejati, cinta
sejati-Nya, dan perasaan damai bila memuliakan namanya dan alam indah
yang diciptakanNya. Semua baik adanya, ingin ku hidup di Yerusalem baru.

Tapi kini kusadar pengorbanan Yesus di atas kayu salib, tidak sia-sia. Oleh bilur-bilurnya kita telah sembuh dan dosa kita diampuni. Amin. Thank you so much my Lord Jesus Christ.

Indonesia, 4 Mei 2013

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started